'Tatapan Nakal' Bill Clinton Panaskan Persaingan Hillary Vs Trump

92

redaksi.co.id – 'Tatapan Nakal' Bill Clinton Panaskan Persaingan Hillary Vs Trump

Bukan cerita baru jika sepanjang perjalanan kariernya sebagai politisi, Bill Clinton tersangkut sejumlah skandal seks. Dan kini perbuatan memalukan yang pernah dilakukan Clinton membayang-bayangi perjalanan sang istri, Hillary menuju Gedung Putih.

Sebelum debat perdana pada Senin 26 September lalu, rival Hillary, Donald Trump mencuit di akun Twitternya bahwa dia akan mengundang seorang perempuan yang pernah jadi masa lalu Clinton. Sosok itu adalah Gennifer Flowers, wanita yang mengaku memiliki hubungan terlarang dengan mantan presiden AS itu.

Meski pada akhirnya hal tersebut urung dilakukan Trump. Pertimbangannya, ia menghormati Chelsea, putri Clinton dan Hillary yang datang dalam acara debat di Hofstra University.

Kini, jelang debat kedua yang akan berlangsung pada 9 Oktober mendatang skandal seks Clinton kembali menjadi sorotan menyusul dirilisnya buku Guilty As Sin. Penulisnya seorang jurnalis, Edward Klein.

Ia memuat kelakuan nakal Clinton di penthouse pribadinya di Little Rock, Arkansas. Klein mengklaim presiden ke-42 AS itu masih melanjutkan hubungannya dengan para pegawai magang.

Buku yang ditulis Klein menyebutkan, Clinton bahkan sempat terpikir untuk mengadakan pesta telanjang di kolam renang. Guilty As Sin juga memuat diskusi Clinton dengan penasihatnya terkait dengan bagaimana Hillary harus menghadapi skandal emailnya.

Dikutip dari news.com.au pada Senin (3/10/2016), seorang pegawai magang yang masih berusia 20-an menjadi nara sumber penulisan buku itu.

Perempuan itu menceritakan saat magang di William J. Clinton Presidential Library and Museum, ia diminta untuk memijat kaki Clinton. “Kami sedang ada di teras apartemen,” ujarnya.

“Dia terkadang mengundang wanita seperti saya yang bekerja di perpustakaan untuk ke penthouse-nyauntuk menikmati segelas anggur merah dan sebuah pijatan.”

“Dia suka dipijat pada leher dan bahu karena otot-ototnya kaku. Tapi yang paling disukainya adalah pijatan pada kaki. Ia menendang sepatunya hingga lepas, membuka kaus kaki, dan menaikkan kaki-kakinya ke meja kecil. Bahagia sekali.”

“Clinton selalu menggoda para wanita di perpustakaan. Ia tahu nama panggilan setiap orang, ia sangat baik dan murah hati. Ketika bicara dengan seseorang, seakan-akan orang itulah satu-satunya di dunia.”

“Saya secara tak sengaja selalu memanggilnya Mr. President. Tapi suatu hari ia memberikan saya tatapan bergairah dan mengatakan, ‘Panggil saya Bill’.”

“Saya sadar omongan orang kalau mereka tahu saya memijat kakinya. Tapi kalau itu membuatnya gembira, saya senang melakukannya. Membayangkan menyentuh seorang presiden Amerika Serikat selalu menarik bagi saya.”

Ketika tengah dipijat, telepon berbunyi. Clinton mendengarkan sejenak, kemudian menaruh kembali telepon.

Menurut yang diingat pemagang itu, Clinton berseru, “Sialan!”

“Ada apa?” tanya karyawan magang tersebut.

Bill Clinton menjawab, “Hillary baru saja memberitahukan kepada beberapa Demokrat di Iowa bahwa ia ada di Snapchat.”

Jawab wanita narasumber itu, “Lalu kenapa? Saya juga di Snapchat. Semua orang di Snapchat.”

“Iya, tapi dia bilang dia menyukai Snapchat karena semua emailnya hilang begitu saja,” jawab Bill.

“Saya tidak mengerti,” kata perempuan itu. Sementara Clintonhanya membalas, “Teruskan pijatnya.”

Ketika pemagang itu kembali melanjutkan pijat, Clinton kembali menelepon. Ia mengadukan kepada lawan bicaranya bahwa Hillary bercanda soal email yang hilang saat makan malam di Wing Ding, Clear Lake, negara bagian Iowa.

Pemagang itu ingat Clinton mengatakan, “Ia ceroboh terhadap FBI. Bodoh sekali! Kamu dan saya perlu bicara. Saya akan kirimkan pesawat terbang untuk menjemputmu.”

Pria yang tiba di perpustakaan itu adalah seorang penasihat terlamadan paling dipercaya Clinton.

Mereka melangkah ke teras penthouse Clinton. Temannya membawa segelas Johnnie Walker Black sementaraBill membawa segelas anggur merah yang menurut dokter baik untuk jantungnya.

“Kamu benar, skandal email ini menjadi liar tak terkendali,” kata penasihat itu.

Ia melanjutkan, “Dari apa yang saya tahu tentang kasus itu, ia (Hillary) sangat rentan. Urusan itu melibatkan bukan hanya FBI dan Kementerian Kehakiman, tapi dua inspektur jenderal di kalangan intelijen dan seorang inspektur jenderal di Kementerian Luar Negeri.”

“Ada beberapa statuta dan undang-undang keamanan nasional yang tampaknya telah ia (Hillary) langgar.”

Ia mengambil beberapa lembar kertas dan mulai membaca daftar dakwaan. Ketika teman Clinton itu selesai menyebutkan hal-hal yang terteradalam daftar, Clinton bertanya, “Jadi?”

“Usulan saya adalah agarHillary mengatasi situasi dengan menyewa penasihat hukum dari luar,” jawab sang penasihat seperti yang dimuat dalam buku karya Klein.

“Ia perlu memastikan layanan penasihat hukum yang ahlimungkin dari kantor bernama besar dari sisi Republikan.”

Menurut orang dekat Clintonitu, Hillaryharus mendapatkan ‘temuan’ ke mana investigasi ini akan mengarah.

“Jangan sampai luput, dan kalau mengabaikannya, anggaplah itu sebagai permainan partisan, dan kalau bertindak ceroboh maka itu akan melemahkan Anda. Jangan mau dalam keadaan begitu.”

Penasihat tadi melanjutkan penjelasan kepada penulis buku itu, “Selain skandal email, ada masalah besar dalam kampanye Hillary.”

Clinton mengetahui-walaupun Hillary tidak tahu-bahwaia harus menjadi komponen utama kampanye Hillary agar berhasil. Ia merasa bahwa AS bergeser ekstrem di kedua sisi.

Satu-satunya strategi pemenangan adalah dengan membujuk pemilih berdasarkan hati mereka-dengan cara yang sangat menarik dan disukai hingga mereka ingin menontonnya di televisi setiap malam.

Bill yakin ia memiliki daya tarik tersebut. Tapi tidak menjamin ia memiliki stamina yang diperlukan untuk kampanye.

“Komponen lainnya adalah adanya jarak antara Bill dan Hillary,” lanjut penasihat tersebut.

“Hillary sudah tidak lagi banyak mendengarkan apa yang disampaikan Clinton. Ketika Bill bicara tentang kebijakan dan politik, Hillary melengos dan mulai membaca pesan-pesan di Blackberry.”

“Ia sebal dengan fakta bahwa Clinton diperlakukan layaknya bintang musik cadas, sedangkan ia harus bekerja keras untuk menciptakan ilusi antusiasme.”

Sementara Clinton cukup melangkah masuk ke suatu ruangan. Ia seperti mengirimkan setruman listrik. Pria dan wanita terkesima. Sedangkan Hillary harus berupaya agar diperhatikan.

“Menurut saya jika Hillary lebih menghargai upaya Clinton dan mengurangi rasa sebal, Clinton mau berupaya lebih gigih baginya. Sungguh melelahkan bekerja untuk orang yang tidak menghargai.”

“Saya sedang bersamanya dalam penthouse di Little Rock setelah pembicaraan panjangnya melalui telepon dengan Hillary. Dan Bill memegang telepon menjauhi telinganya karena dia berteriak-teriak bahwa Bill mengganggu kampanyenya.”

“Akhirnya, Bill memperpendek percakapan dan mengatakan akan menelepon kembali. Ia memang tidak memutus sambungan, tapi nyaris begitu.”

“Sesudah itu, ia menghempaskan diri ke sebuah kursi dan menggeleng-gelengkan kepala. Ia terlihat renta dan kalah. Kemudian ia bangkit, ke luar menuju halaman di atap rumah di mana terdapat lapangan golf mini dan menghempas beberapa bola ke sungai Arkansas. Setelah selesai, ia kembali seperti sediakala.”

“Katanya, “Terserah dia (Hillary) mau melakukan apapun” dan kemudian ia bicara soal rencananya membangun kolam renang di atap perpustakaan. Ia ingin menggelar pesta-pesta telanjang di kolam sebagaimana halnya JohnF. Kennedy melangsungkan sejumlah pesta kolam renang ketika tengah berada di Gedung Putih.”

“Dia punya arsitek yang memberikan laporan kelayakan untuk membangun sebuah kolam renang dan ternyata sangat mahal untuk dibangun serta mengganggu fungsi perpustakaan.’

“National Archives, yang mengurusi perpustakaan presidensial, mungkin akan menolak hal itu. Jadi, dia membatalkan rencananya. Tapi untuk beberapa saat, ia berpikir-pikir tentang kolam di permukaan tanah agar para wanita bisa main siram-siraman.”

“Bill mengenal sejumlah wanita yang secara teratur diundangnya ke apartemen. Kebanyakan dari mereka berusia muda dan sedap dipandang. Ia senang dikelilingi oleh gadis-gadis cantik. Tempat itu sangat aman, jadi dia tahu bahwa para juru foto tidak bisa menerobos.”

“Saya hadir dalam salah satu pesta saat musim panas. Ia menyajikan sampanye dan bir dingin, serta membagikan bunga-bunga mawar yang dipeliharanya di teras serta dinamai seperti ibunya, Virginia Kelley. Suatu saat, ia membawa selang dan menyirami beberapa gadis.”

“Saya bilang, “Teruslah begitu, dan kamu akan memiliki kontes T-shirt basah pertama yang pernah dilakukan di perpustakaan presidensial”.”

(red/hmad/yaiku/AS)

loading...

Comments

comments!