Terkuak, Fakta Mengejutkan tentang 'Negara Cinta Damai' Swiss

redaksi.co.id - Terkuak, Fakta Mengejutkan tentang 'Negara Cinta Damai' Swiss Ketika bicara tentang negara Swiss, orang kerap membayangkan pegunungan Alpen, cokelat kelas atas, jam tangan, atau...

70 0

redaksi.co.id – Terkuak, Fakta Mengejutkan tentang 'Negara Cinta Damai' Swiss

Ketika bicara tentang negara Swiss, orang kerap membayangkan pegunungan Alpen, cokelat kelas atas, jam tangan, atau pisau serbaguna Swiss Army. Terbayanglah suatu negara damai, netral, serta bersikukuh menghindari perang.

Tentulah negara seperti itu tidak pernah melakukan invasi ke negara lain, bukan? Salah.

Liechtenstein adalah suatu negara yang sangat mungil sehingga bahkan banyak warga Eropatidak mengetahui keberadaannya. Luasnya hanya 160 km persegi.

Penduduk negara itu hanya 37.000 jiwa. Negeri mungil itu berbatasan dengan Swiss di selatan dan barat, lalu dengan Austria di timur dan utara.

Tapi jangan anggap remeh. Negeri mungil itu termasuk salah satu negara terkaya di dunia dengan angka pengangguran yang termasuk paling rendah. Dan, ternyata,Liechtenstein adalah penghasil gigi palsu terbesar sedunia.

Karena kecil, negara itu tidak memiliki bandara. Pengunjung harus mendarat di Zurich, Swiss.

Liechtenstein tidak punya kekuatan militer, yang dibubarkan sendiri pada 1868. Mereka adalah satu di antara 22 negara yang tidak memiliki tentara.

Ternyata, seperti dikutip dari warhistoryonline.compada Senin (3/10/2016), Swiss pernah melakukan ‘invasi’ ke Liechtenstein. Bukan hanya sekali, tapi sebanyak 3 kali.

Invasi 1985

Pada 5 Desember 1985, Angkatan Darat Swiss sedang melakukan latihan melibatkan rudal darat ke udara. Cuaca sedang buruk dan angin berhembus kencang. Mereka bersikeras menembakkan rudal.

Ternyata rudal itu menyasar ke hutan Bannwald di Liechtenstein. Api dan kayu adalah kombinasi yang bagus untuk memulai kebakaran, ditambah lagi dengan angin yang sedang kencang.

Walaupun dua negara bertetangga hangat, kasus kebakaran ini sempat menimbulkan ketegangan diplomatik untuk menjelaskan apakah hembusan angin turut menjadi masalah.

Untunglah tidak ada korban jiwa dan Swiss membayar ganti rugi lingkungan senilai jutaan franc Swiss. Selesai? Belum.

Invasi 1992

Pada 13 Oktober 1992, kadet Angkatan Darat Swiss mendapat perintah tertulis untuk mendirikan pos pengintaian di Treisenberg, suatu desa mungil nan indah dengan 2.564 penduduk yang bicara dalam dialek Jerman yang khas.

Masalahnya, desa itu termasuk dalam wilayah Liechtenstein. Para kadet itu ditanyai dengan heran oleh penduduk desa. Dalih mereka, tidak ada garis perbatasan antara Liechtenstein dan Swiss.

Dan desa itu juga bicara bahasa Jerman dalam dialek yang sama. Penduduk dua negara saling menyeberang tanpa visa dan mereka menggunakan mata uang yang sama.

Jangan heran kalau warga Swiss memandang Liechtenstein seakan seperti negara bagian (kanton) ke 27.

Berdasarkan perjanjian, Swiss memang bertanggung jawab atas keamanan Liechtenstein, bahkan memiliki kewenangan diplomatik untuk mewakili tetangga mungilnya.

Walaupun sedang latihan dan membawa senjata, tidak ada kadet yang membawa amunisi. Swiss memang mengenal wajib militer bagi para pemuda.

Pemerintah Swiss meminta maaf dan saat itulah pemerintah Liechtenstein mengetahui apa yang terjadi. Juru bicara Liechtenstein, Gerlinde Manz-Christ, mengatakan, “Tak seorangpun menyadari hal itu.”

Karena tidak ada kerusakan apapun di Liechtenstein, pihak Swiss tidak perlu memberi kompensasi apa-apa.

Invasi 2007

Pada 1 Maret 2007, cuaca gelap diliputi badai ketika pasukan infantri 171 Angkatan Darat Swiss sedang melakukan latihan.

Cuaca menjadi semakin buruk dengan hujan yang tercurah menyulitkan pasukan. Ketika fajar menjelang, mereka sudah ada 1,6 kilometer di dalam wilayah negara lain ketika seseorang di antaranya menyadari.

Komandan mereka pun memerintahkan untuk pulang. Liechtenstein ternyata tidak menyadari kejadian hingga akhirnya –sekali lagi –pihak Swiss meminta maaf.

Ketika ditanya tentang hal itu, juru bicara Manz-Christ menjawab, “Siapa lagi yang melintas perbatasan kalau bukan Swiss?”

Para pejabat Swiss berusaha meredam kejadian itu. Untunglah, pihak Liechtenstein juga tidak membesar-besarkan.

Markus Amman, juru bicara Kementerian Dalam Negeri Liechtenstein mengatakan, “Ah, kami bukan sedang diserbu dengan helikopter serbuatau yang sejenisnya.”

(red/ngga/eksa/AR)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!