Tips Investasi Tanah atau Rumah Saat Usia Muda

123

redaksi.co.id – Tips Investasi Tanah atau Rumah Saat Usia Muda

Usia 20-an tahun adalah masanya seseorang merasakan hidup yang sebenarnya. Hasrat bersenang-senang menikmati hidup bergelora seperti kobaran api.

Namun, di sisi lain, kekhawatiran akan masa depan meruap. Salah satunya, soal harapan memiliki rumah sendiri.

Jelas, punya rumah sendiri adalah impian hampir setiap orang. Saat baru lulus dan diterima kerja, impian ini pasti sudah terlintas saat nego gaji dengan HRD.

Namun gak sedikit yang pesimistis bahwa saat berusia 20-an gak bakal bisa punya rumah sendiri. Bahkan ada yang sengaja cuek bebek lantaran berpikir bahwa kelak juga bakal dapat warisan orang tua.

Akhirnya hidupnya hanya diisi dengan senang-senang. Masa bodoh dengan penghematan. Begitu terjerat masalah keuangan, baru deh repot sendiri.

Mau minta warisan sekarang dari orang tua yang masih sehat walafiat? Dikutuk jadi batu, lho.

Sesungguhnya, gak peduli usia, siapa pun bisa berinvestasi rumah atau tanah demi masa depan. Beli tanah atau rumah buat investasi saat usia 20-an pun bisa banget.

Bukan rahasia lagi, harga properti makin melambung dari tahun ke tahun. Kalau terus-terusan menunda, malah gak kebeli itu rumah idaman.

Makanya, usia 20-an malah menjadi usia emas bagi mereka yang hendak membeli properti. Sebab, usia mereka masih panjang untuk bisa mengambil tenor sampai maksimal 25 tahun.

Kalau usianya 35 tahun terus ambil tenor 25 tahun, umur 60 baru bisa beroleh sertifikat. Udah keburu pensiun, anak-anak udah nikah.

Agar bisa mengambil kredit pemilikan (KPR) tanah atau rumah saat berusia 20-an tahun, tips berikut ini bisa dicoba:

1. Atur pengeluaran

KPR memerlukan pembayaran cicilan rutin tiap bulan. Kalau nunggak, siap-siap kena penalti sampai masuk blacklist BI (Bank Indonesia). Makanya, kita kudu hitung betul pengeluaran per bulan.

Rumus pengeluaran ideal adalah 30 persen dari total penghasilan untuk bayar cicilan, 10 persen untuk proteksi asuransi, 20 persen untuk tabungan plus investasi, dan 40 persen untuk kebutuhan rutin. Cicilan di sini mencakup semuanya, dari kendaraan, rumah, sampai panci dan wajan.

Misalnya pendapatan Rp 10 juta, berarti Rp 3 juta buat bayar semua cicilan, Rp 1 juta untuk premi asuransi jiwa, Rp 2 juta ditabung, dan Rp 4 juta untuk beli beras sampai bayar tagihan listrik. Dengan pengaturan ini, keuangan bisa lebih terpantau.

2. Patok target

Target di sini mencakup jenis hunian yang dibeli, di mana, dan berapa kisaran harganya. Setelah punya target, usaha kita untuk memupuk duit buat investasi rumah atau tanah bakal lebih terarah.

Tanpa target, bakal susah mengumpulkan rupiah demi rupiah. Sebab, gak ada petunjuk yang menuntun ke pembelian rumah tersebut. Yang penting nabung aja gitu. Pas rekening dilihat, lha kok gak cukup buat bayar persekot rumah yang kebetulan ditaksir.

Nah, ketika dirasa penghasilan gak mencukupi untuk segera punya rumah idaman, akali! Mungkin bisa dengan mencari kerja sampingan. Yang penting halal.

3. Optimistis sekaligus realistis

Berinvestasi haruslah optimistis, tapi mesti realistis juga. Jangan sampai pemasukan Rp 5 juta tapi berharap bisa langsung beli rumah di kawasan elite.

Sesuaikan kondisi finansial dengan kenyataan di lapangan. Inilah perlunya menghitung kemampuan finansial pribadi untuk dicocokan dengan karakteristik rumah yang tersedia.

Bila dalam hitungan memang belum bisa menjangkau rumah di area strategis, gak perlu khawatir. Sekali lagi, properti adalah sarana investasi yang menjanjikan kenaikan nilai terus.

Jadi, gak ada salahnya memilih kredit rumah bersubsidi untuk dijadikan investasi masa depan. Asalkan memenuhi syarat, bisa kok kita punya rumah hanya dengan DP 10 persen saja.

Atau bila memang kurang mencukupi, beli tanah kavling saja dulu. Tanah juga termasuk properti kok. Namun, harganya lebih murah ketimbang rumah ataupun apartemen.

Beli rumah bekas juga bisa jadi pilihan. Soal nego lebih gampang karena yang dihadapi adalah individu pemilik rumah, bukan pengembang perumahan baru yang terikat birokrasi.

Yang penting, jangan sampai memaksakan diri membeli hunian di luar jangkauan keuangan. Usia bukanlah patokan untuk menentukan bisa-tidaknya orang membeli properti untuk investasi.

Jadi, beli rumah atau tanah buat investasi saat usia 20-an, oke saja. Lebih bagus malah, kan, gak perlu numpang orang tua/mertua kelak ketika sudah menikah.

(red/hmad/yaiku/AS)

loading...

Comments

comments!