Ini 3 'Petunjuk' Lokasi Harta Karun Nabi Sulaiman?

203

redaksi.co.id – Ini 3 'Petunjuk' Lokasi Harta Karun Nabi Sulaiman?

King Solomon atau Raja Salomo atau Nabi Sulaiman, yang memerintah pada 965 SM dan 925 SM, terkenal karena tiga hal: kebijaksanaan, kekuasaan, dan kekayaannya yang berlimpah ruah.

Putra Daud itu dideskripsikan sebagai orang paling kaya pada zaman kuno. Legenda menyebut, salah satu bentuk kekayaannya adalah istana indah yang dibangun oleh pasukan manusia, jin, dan binatang.

Konon, dinding istana itu terbuat dari batu pualam. Tiang dan pintunya dari emas dan tembaga, atapnya dari perak, hiasan dan ukirannya dari mutiara, intan, juga berlian. Pasir di taman ditaburi mutiara.

Dalam Kitab Raja-Raja I digambarkan, berat emas yang dipersembahkan kepada Sulaiman dalam waktu setahun adalah 666 talen.

Satu talen emas diperkirakan sama beratnya dengan seorang manusia yakni 50 kilogram. Versi lain menyebut sekitar 33 kilogram atau antara 20-40 kg.

Sejumlah upeti lain juga diberikan pada Sulaiman, dari para saudagar rempah-rempah, semua raja di Jazirah Arab, dan para gubernur.

Dalam kitab itu juga disebut, sejumlah emas ditempatkan di sebuah rumah megah yang dibangun di hutan Lebanon. “Raja juga membuat singgasana besar dari gading yang dilapisi emas terbaik.

“Semua cangkir yang digunakan minum sang raja terbuat dari emas, semua perabot di hutan Lebanon dari emas, tak ada yang perak,” demikian tertera dalam kitab, seperti dikutip dari situs Ancient Origins, Jumat (7/10/2016).

Kekayaan luar biasa Nabi Sulaiman membuat banyak orang yakin, masih adaharta karun yang disembunyikan, entah di mana. Meski demikian, apa gerangan pundi-pundi yang masih tersisa tak jelas — mungkin emas, perhiasan, perak, atau mungkin Tabut Perjanjian (Ark of the Covenant) — wadah kayu yang dilapis emas murni dan dilengkapi dua batang pengusung yang salah satu muatannya adalah Sepuluh Perintah Tuhan.

Berikut 3 petunjuk keberadaanharta karun Nabi Sulaiman yang disadur dari berbagai sumber:

1. Tabut Perjanjian

Tabut Perjanjian (Ark of the Covenant) menjadi salah satu artefak paling dicari dari masa Nabi Sulaiman. Berupa sebuah kotak kayu berisi 2 loh batu bertuliskan 10 Perintah Tuhan yang didapat Nabi Musa di Gunung Sinai.

Seorang profesor dari Universitas St Andrew, James Davila mengklaim berhasil menerjemahkan sebuah teks berbahasa Ibrani bernama Treatise of the Vessels (Risalah Kapal).

Berdasar teks itu, Davila mengklaim Kuil Solomon tempat penyimpanan harta karun tersebut kemungkinan tersebar di wilayah Timur Tengah.

“Beberapa harta tersembunyi di berbagai lokasi di Tanah Israel dan di Babilonia, sementara yang lain dikirim ke malaikat Shamshiel, Michael (Mikail), Gabriel (Jibril), dan mungkin Sariel,” tulis Davila dikutip Liputan6.com dari International Science Times.

© Disediakan oleh PT Kreatif Media Karya Tabut Perjanjian (Ark of the Covenant) salah satu harta karun Nabi Sulaiman (Ancient Origins)

Babilonia diketahui berada di wilayah Irak modern. Meski mempersempit kemungkinan lokasi harta karun legendaris itu, apa isi terjemahan tersebut dianggap lebih bersifat fantasi daripada petunjuk.

Teks Risalah Kapal juga menyebut, harta itu telah disembunyikan oleh Shimmur, orang Lewi, salah satu dari 12 suku di Israel, dan para sahabatnya. Namun berikutnya dalam teks itu disebutkan harta itu disembunyikan Shamshiel dan malaikat lainnya.

Teks itu juga memuat daftar harta karun Nabi Sulaiman, mulai ornamen Taman Eden, instrumen musik yang terbuat dari emas, dan Kemah Suci — tempat ibadah yang dapat dipindah-pindahkan untuk bangsa Ibrani.

Peninggalan paling suci di antara harta karun itu adalah Tabut Perjanjian, peti bersepuh emas yang usianya sekitar 3.000 tahun.

Berdasar teks kitab orang Israel, the Ten Commandments atau Sepuluh Perintah Allah yang diturunkan kepada Nabi Musa terdapat dalam peti itu, dan tersimpan di Haikal Sulaiman atau Solomon Temple itu. Selain itu, peti tersebut juga berisi berbagai harta karun.

Bangsa Babilonia menghancurkan Kuil Sulaiman pada 587 Sebelum Masehi. Sejak itu, peti berisi harta karun tersebut lenyap. Selama berabad-abad para arkeolog mencari peti harta karun itu. Namun tetap saja tidak punya petunjuk keberadaan peti itu dirusak atau disembunyikan.

Menurut legenda, Nabi Sulaiman memiliki cincin yang sungguh berharga.

Tak hanya nilainya yang tinggi, cincin tersebut konon juga memiliki kekuatan magis: bisa mengendalikan roh dan setan.

Banyak yang yakin, benda itu bisa menjaga dan memberi perlindungan kepada pemakainya.

Seperti dikisahkan, suatu hari sang raja kehilangan cincinnya yang berharga di perairan Sungai Yordan. Sulaiman menganggap, perhiasan itu telah hilang untuk selamanya, hingga seorang nelayan mengembalikan benda tersebut kepadanya.

Menurut cerita, cincin tersebut ditemukan di dalam badan ikan.Keberadaan cincin berharga itu kini jadi misteri. Konon, ia ikut dimakamkan di sisi jenazah Nabi Sulaiman. Sementara, di mana gerangan makamnya belum diketahui hingga saat ini.

Desas-desus lintas zaman menyebut, barang siapa menemukan cincin tersebut, maka ia akan jadi penguasa dunia.

Nabi Sulaiman juga disebut-sebut punya tambang harta. Kabar itu kali pertama disebarluaskan pada Abad ke-19 oleh penulis H. Rider Haggard dalam novel petualangannya King Solomons Mines — yang diterbitkan bertepatan dengan booming penemuan arkeologi berupa situs-situs kuno di Timur Tengah dan Afrika.

Setengah abad kemudian, rabbi sekaligus arkeolog Amerika, Nelson Glueck mengumumkan bahwa ia telah berada di tambang Sulaiman di Great Rift Valley, dekat perbatasan modern antara Israel dan Yordania.

Namun, tambang-tambang tersebut tak dipenuhi emas, melainkan bijih tembaga — yang menurut Glueck adalah sumber kekayaan Sulaiman.

Karena Glueck tak mampu mengaitkan bukti arkeologis itu dengan apa yang tertera pada kitab suci, para sejarawan modern mengabaikan temuannya.

Apalagi, ada bukti bahwa bangsa Mesir Kuno yang mengoperasikan tambang di wilayah tersebut pada Abad ke-13 — yang didukung penemuan sebuah kuil kuno di sana pada 1969.

Namun, seperti dikutip dari situs History, pada 2008 para peneliti menemukan situs tambang di Yordania, Khirbat en-Nahas — yang berasarkan bukti arkeologi dioperasikan selama Abad ke-10 Sebelum Masehi.

Pada tahun berikutnya, ekskavasi lain mengidentifikasi sebuah situs tambang tembaga di Timna Valley, Israel — yang disebut Site 30 — dibangun pada waktu bersamaan dengan yang ada di Yordania.

Dr. Erez Ben-Yousef, arkeolog dari Tel Aviv University — yang pernah membantu temuan Site 30 — memimpin ekskavasi di Slaves Hill atau Bukit Para Budak. Artefak yang ditemukan di sana ternyata tak berciri Mesir Kuno.

(red/ambertus/usi/urek/LLH)

loading...

Comments

comments!