Teknologi Digital Sebabkan Anak Muda Lebih Stres

47

redaksi.co.id – Teknologi Digital Sebabkan Anak Muda Lebih Stres

Selama hampir lima bulan, saat bekerja untuk seorang pengusaha terkemuka, hidup Emma berpusat hanya sekitar pekerjaan. “Ponsel saya selalu dekat. Waktu benar-benar menjadi sesuatu yang mengerikan,” kata Emma Hack.

Emma dan rekan-rekannya kantornya terus berkomunikasi menggunakan aplikasi chatting asal Cina WeChat, bahkan saat mereka berada di rumah. Jadi, mereka tetap bekerja.

Bagi bosnya, bukanlah masalah untuk mengirimkan email pada pukul 10 malam dan meminta Emma menyelesaikan dokumen, meski sudah pulang ke rumah. Emma bahkan bisa bekerja sampai pukul dua atau tiga pagi dan harus kembali ke kantor pukul sembilan.

Pada dasarnya, Emma tidak memiliki kehidupan lain selain bekerja. “Benar-benar stress. Saya pun merasa cemas jika telepon tidak berada dekat saya,” katanya.

Ketika stres pekerjaan mulai mempengaruhi kesehatan mental dan fisiknya, Emma merasa muak dan memutuskan berhenti. (Emma bukanlah nama sebenarnya, ia juga minta agar identitas atasannya dirahasiakan, karena masih membutuhkan pekerjaan)

Sebuah survei baru yang dirilis Senin (3/10) menunjukkan apa yang dialami Emma sangat umum terjadi.

Lebih dari setengah anak muda berusia 18-31 tahun mengalami ‘stres teknologi’ atau istilahnya ‘tech-stress‘ akibat selalu terhubung pada perkerjaan atau kantor mereka. Misalnya, smartphone memudahkan atasan mengirimkan email, meski kita tidak ada di kantor. Dengan adanya jejaring sosial berarti Anda terus memantau perkembangan di sektor Anda bekerja, siang atau malam hari.

Perusahaan nirlaba, Reventure melakukan survei online kepada 1.001 orang yang mengalami stres di tempat kerja. Sebanyak 46 persen dari responden mengatakan mereka merasa teknologi memiliki arti bahwa mereka “selalu” siap dan tidak bisa dimatikan.

Di kalangan anak muda, hasilnya lebih buruk lagi. 54 persen orang-orang muda mengatakan mereka mengalami “stress teknologi”, baik kadang-kadang maupun seringkali.

“Di saat teknologi tak lagi diragukan untuk meningkatkan produktivitas dan kemudahan untuk berkomunikasi, tapi memiliki dampak menganggu pada pola kerja dan kemampuan pekerja untuk berhenti dari pekerjaan mereka,” ujar Lindsay McMillan, peneliti dari Revenue.

Lindsay mengatakan keseimbangan kehidupan dan pekerjaan adalah “vital”, dan penting juga bahwa teknologi yang ada “tidak berdampak negatif pada hubungan yang sehat dan gaya hidup di luar pekerjaan”.

(red/ochman/rief/RA)

loading...

Comments

comments!