Suami-Istri di Jerman Larang Anaknya Keluar Rumah Selama 30 Tahun, Ini Alasannya

47

redaksi.co.id – Suami-Istri di Jerman Larang Anaknya Keluar Rumah Selama 30 Tahun, Ini Alasannya

Kepolisian Jerman sedang menyelidiki pasangan suami istri yang dilaporkan memaksa anak lelakinya tetap tinggal di dalam rumah selama sekitar 30 tahun.

Keluarga itu tinggal di sebuah desa di dekat kota Bayreuth di kawasan Bavaria, Jerman.

Anak pasangan itu, yang kini berusia 43 tahun, jarang terlihat sejak dia berhenti sekolah pada usia 13 tahun.

Polisi mengatakan, pria tersebut tampak diabaikan keluarganya walau tidak tampak kekurangan makan.

Ibunya mengatakan kepada media lokal bahwa putranya tidak ingin ke luar rumah dan hanya menginginkan agar putranya terlindungi.

Kepolisian setempat kemudian membawa pria itu ke rumah sakit akhir bulan lalu, tetapi identitasnya tetap dirahasiakan sesuai hukum yang berlaku di Jerman.

Tragedi keluarga

Polisi mengatakan, kasus ini lebih cenderung sebagai sebuah tragedi keluarga ketimbang kasus kriminal.

“Kami tidak tahu persis sejak kapan pria itu tinggal di sana tanpa kontak secara teratur dengan dunia luar,” kata juru bicara kepolisian, Juergen Stadter, kepada wartawan.

“Kami juga tidak tahu situasinya benar-benar tampak seperti, misalnya, apakah dia memiliki kesempatan untuk meninggalkan rumahnya,” tambah Juergen.

Dalam keterangannya, polisi juga mengatakan bahwa pria itu dibiarkan bergerak bebas di dalam rumah dan tidak diikat.

Ketika layanan darurat datang untuk menjemputnya, pria itu dilaporkan menyatakan bersedia untuk menerimanya.

“Dia jelas merasa terlindungi dengan baik di rumahnya,” kata Stadter.

Korban “bully”?

Ibu pria itu, yang berusia 76 tahun, mengatakan, dia dan suaminya tidak pernah mengunci anaknya agar berada di dalam rumah.

“Dia hanya tidak ingin keluar rumah,” katanya kepada wartawan.

Menurut dia, anaknya pernah menjadi korban bully ketika masih sekolah sehingga sebagai ibu dia tergerak untuk melindunginya.

Kepada situs berita Reporter 24, ibu pria itu mengaku menyimpan semua rincian, setiap kata pelecehan, dan setiap serangan yang dialami anaknya selama di sekolah.

“Saya bahkan tidak bisa mengulangi kata-kata yang mengerikan seperti itu,” katanya.

Sejak saat itulah, pria itu tidak ingin meninggalkan rumah lagi, karena “takut” menghadapi teman-temannya.

Dia mengaku pernah melaporkan kasus bully yang dialami anaknya kepada polisi ketika anaknya berhenti sekolah pada 1984.

Kapan terungkap?

Kini muncul pertanyaan mengapa selama ini tidak ada seorang pun yang mengangkat persoalan tersebut.

Bukti satu-satunya yang dimiliki kepolisian menunjukkan, saat berusia 30 tahun, pria itu pernah datang ke sebuah acara di sekolah dasar.

Dokumen lain yang dimiliki kepolisian menunjukkan pula, saat pria itu berusia 13 tahun, pihak sekolah menyimpulkan bahwa dia tidak mampu mengikuti pelajaran di kelas.

Kasus ini terungkap setelah ada seorang pendatang baru di desa tersebut pada awal tahun 2016, ungkap tabloid Bild.

Pendatang baru itu akhirnya mengetahui dari penduduk desa bahwa ada seorang “tahanan” yang dilarang orangtuanya “melakukan kontak dengan penduduk lainnya”.

Akhirnya si pendatang baru melaporkan kasus ini ke polisi.

Pria 43 tahun itu kini sedang dirawat oleh tim khusus di rumah sakit, yang terdiri dari dokter, perawat, dan terapis, kata seorang juru bicara.

Rumah sakit akan mencoba untuk menentukan apakah dia menderita penyakit atau memiliki masalah kesehatan mental.

Sumber : BBC Indonesia

(red/ijayanto/W)

loading...

Comments

comments!