7 Jenis Pekerja yang Bakal Aman dari Ancaman PHK

redaksi.co.id - 7 Jenis Pekerja yang Bakal Aman dari Ancaman PHK Pemutusan hubungan kerja (PHK) adalah momok bagi semua pekerja. Bahkan yang sekelas manajer bisa juga...

19 0

redaksi.co.id – 7 Jenis Pekerja yang Bakal Aman dari Ancaman PHK

Pemutusan hubungan kerja (PHK) adalah momok bagi semua pekerja. Bahkan yang sekelas manajer bisa juga tiba-tiba terkena PHK.

Apalagi jika sedang terjadi gonjang-ganjing di tubuh perusahaan. Yang paling rentan jelas mereka yang duduk di divisi terbawah. Pekerja kontrak dan outsourcing tepatnya.

Tapi apakah mereka yang menjadi staf di divisi atas bakal lebih aman? Sayangnya, enggak.

Karena itulah semua pekerja mencoba sekeras mungkin menjauhkan diri dari ancaman PHK. Masalahnya, banyak yang berpikir bahwa bekerja dengan baik saja sudah cukup.

Bekerja dengan baik itu sudah menjadi kewajiban standar buat semua pegawai. Artinya, semua orang di kantor pastinya juga akan menempuh cara tersebut.

Yang perlu dilakukan adalah menjadi pekerja yang menonjol, yang lain daripada yang lain. Berikut ini 7 jenis pekerja yang bakal aman dari ancaman PHK. Pastikan kita termasuk di antaranya.

1. Punya pengetahuan khusus

Dalam satu divisi, tiap orang mestinya punya keahlian khusus yang serupa. Contohnya kerja di bagian teknologi informasi, tentunya semua paham soal teknologi. Tapi biasanya hanya soal software.

Lengkapi pengetahuanmu soal hardware, misalnya pemasangan jaringan dan spesifikasi monitor sampai mouse. Pengetahuan ini akan membuat posisimu lebih terlihat ketimbang awak lain yang biasa-biasa saja. Namun tentu pengetahuan ini mesti dipraktikkan dalam kerja, gak hanya jadi hiasan.

2. Rela berkorban

Siapa sih yang gak terkesan akan orang yang rela berkorban. Di dunia kerja, contoh rela berkorban adalah membantu pekerjaan rekan kerja. Apalagi kalau dia lagi gak masuk karena sakit atau alasan penting lainnya.

Toh, pekerjaan ini akan sangat berguna buat satu tim. Contoh lainnya adalah lembur agar pekerjaan selesai sebelum deadline. Sudah dapat uang lemburan, jadi menonjol pula.

3. Fokus ke atasan langsung

Banyak orang yang bekerja dengan acuan rekan kerja. Padahal yang berwenang menilai dan menentukan karier adalah atasan. Jadi, sebisa mungkin kerjakan tugas-tugas yang berhubungan langsung dengan bos.

Yang simpel aja, misalnya membantu ketika proyektor buat meeting ada gangguan. Begitu juga bila ada proyek dan bos butuh tenaga. Acungkan jari biar antusiasme terlihat.

4. Selalu produktif

Produktivitas selalu selaras dengan kenaikan karier, bukan ancaman PHK. Masak, orang yang produktif malah dipecat? Jadikan ini kebiasaan sehari-hari.

Jangan sampai kemalasan menghalangi usaha untuk keluar dari ancaman PHK. Kecuali memang mau niat diputus kontraknya.

5. Berjiwa pemimpin

Dalam suatu tim, pemimpin punya peranan penting. Pastikan kita punya jiwa kepemimpinan, meski kita hanya menjadi staf di perusahaan.

Gak perlu jadi manajer untuk menunjukkan jiwa kepemimpinan. Saat rapat, misalnya, aktiflah memberikan ide dan menjelaskannya dengan gamblang. Itu sudah cukup untuk memberi tahu khalayak bahwa kita layak memimpin mereka yang lebih pasif.

6. Kompak dalam tim

Sebagai bagian dari tim, kita perlu menjaga kekompakan agar hasil kerja maksimal. Makanya, meski kita lebih berfokus pada atasan, kolega gak lantas ditinggalkan.

Bagaimanapun, yang sehari-hari lebih sering melihat kita bekerja adalah rekan sekantor. Gak ada gunanya bila kita punya poin plus di mata bos, tapi oleh rekan dinilai minus. Jatuhnya malah kita dianggap sebagai penjilat.

7. Gaul

Gaul di sini bukan berarti sok kenal sok dekat dengan semua orang. Sapa saja tiap orang yang ditemui, terutama bos-bos. Ini buat ngasih tahu, Hei, ini lho aku ada di sini.

Jadi, selain dikenal berprestasi, kita punya posisi sebagai orang yang punya banyak relasi. Plus, jangan lupa tersenyum. Bukan pasang muka muram tiap hari. Hakulyakin ancaman PHK itu gak sempat melipir deh.

Tujuh jenis pekerja di atas jelas belum pasti aman dari ancaman PHK. Tapi tentunya lebih aman ketimbang mereka yang gak termasuk di dalamnya.

Sekarang terserah kita. Mau masuk golongan pekerja yang biasa saja atau gak sekadar kerja seperti contoh di atas dan hidup lebih nyaman tanpa banyak pikiran.book to keep up to date with our latest news and articles.

(red/udhi/wi/nggoro/YDA)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!