Mekanisme ‘Nyanyian’ Tikus Mirip Jet Supersonik

120

redaksi.co.id – Mekanisme ‘Nyanyian’ Tikus Mirip Jet Supersonik

Tikus dan sejumlah keluarga rodensia lain kerap mengeluarkan nyanyian ; ultrasonik untuk menarik pasangan atau menandai daerahnya. Proses nyanyian ; tikus biasanya digunakan untuk mempelajari kelainan komunikasi pada manusia, seperti gagap.

Hasil studi yang dimuat dalam jurnal Current Biology menunjukkan sebuah proses unik ketika tikus mengeluarkan bunyi. Mereka mengggunakan teknik yang menyerupai mekanisme semburan udara pada mesin jet supersonik.

Awalnya, mekanisme lengkingan tikus itu diduga mirip dengan proses keluarnya suara pada ketel. Para peneliti juga sempat memperkirakan resonansi suara disebabkan getaran pada pita suara. Tikus membuat suara ultrasonik dengan cara yang tidak pernah ditemukan pada hewan lain, kata peneliti utama Elena Mahrt dari Washington State University, seperti ditulis laman Sciencedaily , 10 Oktober 2016.

Tikus mengeluarkan suara ultrasonik dengan menembakkan semburan udara kecil dari tenggorokan ke dinding dalam laring yang memicu resonansi dan menghasilkan siulan ; ultrasonik. Rekaman video berkecepatan tinggi, 100.000 frame per detik, menunjukkan pita suara tikus tak bergerak ketika suara ultrasonik meluncur dari laring.

Menurut Anurag Agarwal, anggota tim peneliti dan kepala laboratorium aeroakustik di Departemen Teknik Universitas Cambridge, mekanisme serupa yang digunakan tikus itu hanya ada pada aplikasi mesin jet supersonik.

Mekanisme itu bekerja saat pesawat jet tinggal landas secara vertikal atau melakukan pendaratan. Mekanisme serupa juga digunakan pesawat mendapatkan aliran udara untuk mendinginkan komponen listrik dan turbin.

Para tikus itu jelas melakukan sesuatu yang sangat rumit membuat suara ultrasonik, kata Agarwal. Para peneliti memperkirakan banyak angota keluarga rodensia lain menggunakan trik serupa untuk berkomunikasi. Namun sejauh ini masih sedikit sekali yang diketahui manusia. Ada kemungkinan kelelawar juga memakai mekanisme ini saat melakukan ekolokasi, Coen Elemans dari University of Southern Denmark. SCIENCEDAILY | PHYS.ORG | GABRIEL WAHYU TITIYOGA

(red/ijayanto/W)

loading...

Comments

comments!