7 Pemain Haus Gol Pendukung Skema Ofensif Timnas Indonesia

redaksi.co.id - 7 Pemain Haus Gol Pendukung Skema Ofensif Timnas Indonesia Keluhan soal minimnya striker haus gol sempat dilontarkanAlfred Riedl beberapa bulan silam saat mengiyakan tawaran...

10 0

redaksi.co.id – 7 Pemain Haus Gol Pendukung Skema Ofensif Timnas Indonesia

Keluhan soal minimnya striker haus gol sempat dilontarkanAlfred Riedl beberapa bulan silam saat mengiyakan tawaran PSSI untuk menukangi Timnas Indonesia buat kepentingan tampil di Piala AFF 2016. Pelatih asal Austria menyebut opsi pilihan di lini depan Tim Merah-Putih amat sedikit.

Berlimpahnya pemain-pemain asing berposisi sebagai penyerang di pentas kompetisi kasta elite membuat striker-striker lokal tersudut. Banyak di antara mereka kehilangan kesempatan bermain karena pelatih di klubnya memilih cara aman.

Dihadapkan tuntutan beban berat kewajiban berprestasi dari manajemen klub, para pelatih akhirnya pragmatis memilih bomber-bomber impor.

Sejatinya jumlah striker lokal dengan standar kualitas di atas rata-rata di Indonesia terhitung sedikit. Hal itu bisa terlihat dari barisan nama pemain yang jadi pencetak gol terbanyak di pentas kompetisi kasta elite di hampir tiap musim.

Praktis hanya seorang Boaz Solossa yang bisa menerobos persaingan elite pemain tertajam. Ia tercatat sebagai Top Scorer Indonesia Super League musim 2008-2009, 2010-2011, dan 2013.

Ada nama lain yang juga unjuk ketajaman yakni Cristian Gonzales yang jadi pemain paling tajam pada musim 2005, 2006, dan 2007-2008. Akan tetapi awalnya ia berstatus sebagai pemain asing asal Uruguay, sebelum akhirnya dinaturalisasi jelang Piala AFF 2010.

Nama terakhir penyerang lokal yang masih aktif menjadi top scorer kompetisi adalah Bambang Pamungkas di Liga Indonesia 1999-2000 serta Ferdinand Sinaga di ajang Indonesia Primer League 2012.

Bambang Pamungkas jadi satu-satunya pemain paling stabil soal produktivitas mencetak gol di Timnas Indonesia. Pada periode 19992012 ia mengoleksi 37 gol buat Tim Merah-Putih. Belum ada pemain lain yang terlihat bisa stabil seperti Bepe, yang memutuskan pensiun pasca Piala AFF 2012.

Agak ironis rasanya karena di era-era sebelumnya Timnas Indonesia tidak pernah kekurangan striker-striker berkelas. Ramang, Bambang Nurdiansyah, Sucipto Suntoro, Subangkit, Ricky Yakobi, Widodo C. Putro, Rochy Putiray, Miro Baldo Bento adalah sederet penyerang yang jadi macan gol Tim Garuda dari masa ke masa.

Namun, kekhawatiran Alfred Riedl pelan-pelan mulai terpinggirkan. Ia mulai menemukan figur-figur predator yang diandalkan untuk mendukung strategi menyerang. Mereka itu tak semua di posisi sebagai penyerang tengah, tapi juga winger atau gelandang serang.

Bola.com mencatat ada tujuh pemain berkarakter menyerang yang berpotensi menjadi pemain paling produktif di Timnas Indonesia. Siapa-siapa saja mereka?

Boaz Solossa

Boaz Solossa adalah striker paling sarat pengalaman di Timnas Indonesia saat ini. Ia memulai debut bersama Tim Merah-Putih di Piala Tiger 2004 (nama lama Piala AFF). Kala itu Boaz yang masih berusia 19 tahun jadi Rising Star turnamen.

Berduet dengan Ilham Jayakesuma, Boaz jadi momok yang menakutkan bagi lini pertahanan lawan. Timnas Indonesia mencatat prestasi menjadi runner-up, setelah di partai final kalah dengan agregat 2-5 melawan Singapura.

Apesnya pasca Piala AFF 2004 keberuntungan Boaz seperti menghilang di level Timnas Indonesia. Ia kerap kali absen di ajang-ajang penting internasional karena cedera. Jangan heran koleksi golnya terhitung sedikit, hanya 10 buah hingga 2015 ini.

Namun, di sisi lain Boaz menunjukkan konsistensi penampilan di Persipura Jayapura. Ia mengantar Tim Mutiara Hitam juara empat kali kompetisi kasta tertinggi, tiga di antaranya sebagai top scorer dan pemain terbaik.

Memasuki usia matang 30 tahun (kelahiran 16 Maret 1986), Boaz diharapkan bisa menularkan mentalitas sebagai pemenang di skuat Tim Garuda Piala AFF 2016 yang dihuni banyak pemain belia.

Alfred Riedl menunjukBoaz Solossa sebagai kapten Timnas Indonesia. Ketajaman ditunjukkan sang pemain dengan melesakkan dua gol ke gawang Malaysia dalam duel uji coba yang digelar di Stadion Manahan, Solo, pada Selasa (6/9/2016).

Jika dalam kondisi fit, peluang pemain asal Papua tersebut menjadi mesin gol timnas amat besar. Diplot sebagai penyerang tengah, Boaz dilayani pemain-pemain lain dari sektor tengah dan belakang.

Irfan Bachdim

Irfan Bachdim sejatinya bermain di posisi gelandang serang. Pemain yang sempat mencicipi kompetisi elite Liga Belanda bersama Utrecht FC pada musim 2009, didorong oleh Alfred Riedl menjadi penyerang tengah.

Irfan yang terbiasa bermain di banyak posisi sejak level junior terlihat tidak kesulitan dengan posisi barunya. Di Piala AFF 2010, pemain kelahiran Amsterdam, 11 Agustus 1988 mencetak dua gol buat Timnas Indonesia. Ia jadi striker pelayan Cristian Gonzales yang mencetak lima gol sepanjang pentas turnamen.

Irfan Bachdim yang terakhir tercatat berkiprah di klub Jepang, Consadole Sapporo, dituntut Alfred Riedl menjalankan peran serupa di Piala AFF 2016. Ia dipasang jadi duet Boaz Solossa yang diberdayakan sebagai ujung tombak terdepan.

Pengalaman berkiprah di kompetisi berkualitas tinggi di Negeri Sakura membuat permainan Irfan terlihat lebih matang. Ditopang stamina prima serta kecerdikan penempatan posisi, Irfan menjelma menjadi predator ganas.

Ia sudah mengoleksi dua gol buat Timnas Indonesia di dua laga uji coba jelang Piala AFF 2016. Satu ke gawang Malaysia, satu lagi ke Vietnam.

Dengan bekal kemampuan skill di atas rata-rata, Irfan Bachdim bisa jadi pemain bunglon di sektor tengah. Ia bisa sedikit turun membantu para gelandang saat tim yang dihadapi Tim Merah-Putih bermain ofensif dengan banyak melakukan tekanan spartan.

Lerby Eliandry

SosokLerby Eliandry jadi penyerang paling hijau pengalaman di ajang internasional. Penyerang muda kelahiran 21 November 1991 tersebut tampil cemerlang di level junior bersama Persisam Samarinda, namun kerap kalah bersaing dalam perebutan posisi Timnas Indonesia level junior U-19 dan U-23.

Namun, style permainan Lerby amat disukai oleh Alfred Riedl. Ia tipikal penyerang yang bisa menahan bola. Ia amat mobil membuka ruang.

Penampilannya bersama Pusamania Borneo FC di Torabika Soccer Championship 2016 presented by IM3 Ooredoo terhitung mengkilap. Ia jadi pemain pilihan utama sektor depan Tim Pesut Etam, walau di klub tersebut kebanjiran penyerang asing.

Di TSC 2014 Lerby sudah mengoleksi empat gol, dan amat mungkin bertambah jika terus diberi kesempatan bermain.

Di Timnas Indonesia proyeksi Piala AFF 2016 ia belum menyumbang gol, karena memang ia dijadikan serep. Terlepas dari produktivitasnya yang belum terlihat, Lerby memberi warna pada sisi menyerang Tim Merah-Putih. Alfred Riedl punya penyerang yang rajin bergerak untuk memancing perhatian bek-bek lawan.

Ferdinand Sinaga

Kali pertama mentas di Timnas Indonesia SEA Games 2011, nama Ferdinand Sinaga melesat di persaingan elite lini depan sepak bola nasional. Di usia muda Ferdinand yang jebolan tim junior Persib Bandung sudah berani merantau ke berbagai daerah.

Ia sempat berkiprah di Persiwa Wamena, Semen Padang, Persisam Samarinda, Persib Bandung, Sriwijaya FC, dan kini PSM Makassar.

Bomber kelahiran Bengkulu, 18 September 1988 tersebut mencatatkan diri sebagai pemain paling produktif di Indonesia Primer League (IPL) 2012. Klub yang dibelanya saat itu Semen Padang jadi jawara kompetisi.

Ferdinand Sinagakembali menggebrak dengan mengantar Persib Bandung jadi juara Indonesia Super League 2014. Saat itu ia juga jadi pemain paling tajam di Maung Bandung dengan koleksi 11 gol.

Pada tahun yang sama ia menjadi bagian skuat Timnas Indonesia U-23 Asian Games. Langkah tim asuhan Aji Santoso terhenti di perempat final, namun nama Ferdinand tercatat jadi pemain paling produktif di ajang multievent dengan lesakan enam gol.

Akan tetapi namanya tak masuk skuat Timnas Indonesia Senior Piala AFF 2014. Alfred Riedl mendepaknya karena sang pemain terlibat keributan dengan suporter kala Tim Garuda beruji coba melawan ASEAN All-star di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan.

Di balik perilakunya yang tempramental, Ferdinand adalah sedikit dari penyerang lokal yang produktivitasnya stabil.

Tengok saja pada musim ini. Ferdinand melesakkan delapan gol buat PSM Makassar, setelah sebelumnya sempat mandul gol di awal musim. Melihat grafik performanya menanjak, Alfred memberi kesempatan kepada Alfred untuk kembali membela Timnas Indonesia.

Saat pertandingan Indonesia kontra Vietnam di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Minggu (9/10/2016) ia masuk sebagai pemain pengganti Boaz Solossa. Ferdinand, gaya bermainnya mirip Boaz mengandalkan kecepatan dan insting membaca peluang.

Dua orang dengan gaya main hampir sama amat menguntungkan. Alfred punya serep dengan kualitas setara jika salah satu di antara mereka ada yang cedera atau terkena hukuman kartu.

Zulham Zamrun

Zulham Zamrun adalah penyerang era sepak bola modern terkini. Bermain di sisi sayap, ia amat berbahaya saat melakukan tusukan ke area kotak penalti lawan. Sepintas gaya bermainnya mirip dua superstar Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, yang dikenal amat buas menjebol gawang lawan.

Tenaga Zulham amat dibutuhkan untuk menambah greget skema ofensif Timnas Indonesia. Ia bisa jadi pemain pemecah kebuntuan kala dua striker tengah mati angin dikawal ketat bek-bek kubu lawan.

Tak hanya cepat dan pintar membaca celah di zona pertahanan kubu seteru,Zulham Zamrun juga punya kemampuan mengesekusi bola mati yang paten. Gol indah tendangan indah jatak jauh yang diciptakannya saat Timnas Indonesia bersua Vietnam menegaskan betapa multi talentanya Zulham.

Dalam skema 4-4-2 Zulham lebih berperan sebagai gelandang, ia dituntut jadi pemain yang berfungsi sebagai pembagi bola lewat crossing dari sisi melebar.

Tugas ini rasanya tidaklah sulit dijalani pemain asal Ternate, Maluku tersebut. Karena sejatinya ia punya kemampuan menyorongkan umpan terukur.

Hanya tentu Alfred Riedl tidak ingin melihat Zulham hanya hebat sebagai pelayan. Pelatih asal Austria itu amat ingin mengeksloitasi naluri mencetak gol yang dimiliki pemain kelahiran 19 Februari 1988 itu. Saat situasi tertentu sosok pemain Persib Bandung tersebut bisa menyajikan gol-gol kejutan.

Andik Vermansah

Hampir mirip dengan Zulham Zamrun,Andik Vermansah juga tipikal pemain yang posisi bermainnya tengah naik daun di dunia sepak bola internasional. Pemain yang berkostum Selangor FA sempat dijuluki Messi Indonesia karena gaya bermain dan posturnya sepintas mirip bintang asal Argentina, Lionel Messi.

Berbekal kemampuan dribel di atas rata-rata serta ditopang speed lari yang kencang Andik akan jadi salah satu elemen penting meningkatkan daya dobrak Timnas Indonesia.

Semenjak berkiprah di Liga Malaysia permainan Andik amat berkembang. Ia jadi pemain tidak lagi egoistis. Ia tak lagi jadi sosok yang selalu memaksakan diri menciptakan gol, tapi lebih fleksibel bersedia memberi umpan kepada rekannya yang punya peluang lebih baik menjebol gawang lawan.

Gaya bermain Andik amat efektif untuk memancing pelanggaran di area pertahanan lawan. Tengok saja saat di duel uji coba melawan Malaysia, Timnas Indonesia banyak mendapat kesempatan melakukan tendangan bola mati buat terjatuhnya penyerang sayap kanan kelahiran Jember, 23 November 1991 tersebut.

Saat situasi bola mati terjadi Tim Merah-Putih punya Boaz Solossa, Zulham Zamrun, dan Evan Dimas, yang punya tendangan jarak jauh amat bagus.

Evan Dimas

Evan Dimas jadi gelandang serang dengan kemampuan multi tasking. Ia tidak hanya jadi pengatur tempo atau memuluskan skema passing games, tapi juga bisa berperan sebagai penyerang lubang.

Dibekali naluri mencetak gol yang tinggi Evan jadi sosok pemain pemecah kebuntuan yang amat berbahaya. Pemain didikan SSB Mitra Surabaya itu punya bakat terpendam untuk dimainkan sebagai false nine (penyerang bunglon).

Kala membela Timnas Indonesia U-19 dan U-23 produktivitas Evan amat moncer. Anda tentu masih ingat ingat bagaimana ia mencetak hattrick ke gawang Korea Selatan saat Timnas Indonesia U-19 bersua negara tersebut di babak Kualifikasi Piala AFC U-19 2014.

Dipasang sebagai gelandang serang Evan kerap muncul dengan tendangan-tendangan keras tidak terduga dari lini kedua. Alfred Riedl sendiri sejatinya tidak berharap Evan Dimas untuk tampil ngotot membantu serangan.

Dengan skema 4-4-2 ia lebih dituntut mengeluarkan kemampuan terbaiknya mengatur tempo permainan. Tapi tentunya jika situasi memungkinkan,Evan Dimas bisa muncul sebagai pemberi efek kejut pada kubu lawan.

(red/urista/urnamasari/NP)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!