Sekte di Pedalaman AS Anggap Donald Trump Pertanda Kiamat?

261

redaksi.co.id – Sekte di Pedalaman AS Anggap Donald Trump Pertanda Kiamat?

Jauh di pedalaman negara bagian Utah, ada suatu kelompok masyarakat yang melihatpilpres Amerika Serikat (AS) 2016 bukan sekedar sebagai persaingan tampuk pimpinan, tapi sebagai pertanda datangnya kiamat.

Kelompok ini adalah orang-orang yang percaya kepada ‘nabi’ bernama John Hyrum Koyle yang hidup pada pergantian Abad ke-19 dan 20. Pada akhir 1800-an dan awal 1900-an, Koyle meraup ribuan pengikut berlandaskan kepada mimpi-mimpinya tentang akhir dunia.

Dikutip dari Vice pada Rabu (12/10/2016), secara khusus adalah mimpinya tentang “gajah Republikan”. Dalam mimpi, seekor gajah yang adalah perlambang Partai Republik diramalkan goyah terjatuh dalam suatu pemilu dan tidak pernah bangun lagi.

Satu abad kemudian, masih banyak yang mempercayai mimpi Koyle itu sebagai kumpulan simbol-simbol terkait kiamat. Mereka pun berspekulasi bahwa pencalonan Donald Trump sebagai penggenapan mimpi tentang gajah yang dimaksud.

Dalam bahasa sederhana, mereka melihat Trump sebagai perlambang datangnya kiamat.

Sejarah Amerika dipenuhi dengan tukang ramal, pemberi nubuat, dan para penipu yang semuanya mengaku memiliki bakat untuk melihat ke masa depan. Tapi, Koyle bukan peramal sembarangan.

Kenyataannya, ia masih memiliki para pengikut pada 2016. Hal ini sebagian disebabkan oleh pelestarian sebuah pertambangan yang digali pada bagian luar sebuah bukit di luar Salem, negara bagian Utah. Salem berjarak sekitar 1 jam dari Salt Lake City.

Pada 1894, sebagaimana dikisahkan dalam legenda, Koyle didatangi malaikat dalam suatu mimpi. Malaikat itu membawanya terbang dari rumah pertanian menembus bebatuan untuk masuk ke pegunungan.

Di dalam pegunungan, malaikat itu bukan hanya mengungkapkan adanya relung-relung berisi emas, tapi juga 9 ruang besar berisi harta karun bangsa Nefit. Dalam Buku Mormon, bangsa itu disebut sudah musnah.

Malaikat itu meminta Koyle untuk membangun sebuah tambang. Lalu, dalam keadaan darurat kemanusiaan, segala kekayaan tambang itu dapat dipakai untuk membangun suatu kerajaan yang dapat menyintas Armageddonpeperangan terakhir antara si jahat melawan si baik.

Saat itu, disebutkan bahwa orang-orang mendengarkan Koyle karena beberapa ramalannya tepat. Mimpi pertamanya membantu menemukan seekor sapi yang hilang. Ia juga disebut-sebut meramalkan kisruh pasar modal pada 1929 dan mulainya Perang Dunia I. Jadi, ketika ia bicara soal pertambangan, orang-orang menurut saja.

Pada 1909, diresmikanlah pertambangan itu. Sekitar 114.000 lembar saham dijual seharga US$ 1,50 per lembar dengan harapan meroketnya harga saham ketika emas ditemukan.

Pada masa itu, ada 20 hingga 30 ribu warga Utah dan keluarganya yang menjadi pemegang saham untuk mendukung visi Koyle atas tambang tersebut, demikian menurut Norman Pierce, seorang pembantu Koyle dan penulis buku The Dream Mine Story.

Hingga saat ini, lorong utama pertambangan sepanjang sekitar 1 kilometer itu masih belum operasional juga. Namun demikian, perusahaan ‘The Relief Mine Company’ tetap melakukan pekerjaan setara US$ 100 per tahun agar tetap memenuhi klaim sesuai dengan aturan negara bagian Utah.

Dengan demikian, klaim tentang tambang itu tetap aktif dan terdaftar di negara bagian dalam 1 abad terakhir ini, walaupun tidak ada temuan emas ataupun pembagian dividen kepada para pemegang saham.

Tambang itu membayar kewajiban-kewajiban tak seberapa menggunakan pemasukan dari produksi kerikil dan penjualan buah dari perkebunan di properti tersebut.

Saham yang ada masih diwariskan secara turun-temurun. Bahkan masih ada yang membeli saham-saham baru dengan antisipasi tibanya Armageddon.

Nubuatan gajah Republikan bukanlah satu-satunya pertanda bahwa kiamat sudah dekat. Para pengikut Koyle juga menyebut-nyebut resesi 2008 dan upaya pemulihan sesudahnya.

Pada saat itu, mereka yang percaya membandingkan kejadian-kejadian dengan mimpi Koyle yang mengungkapkan bahwa, sebelum kiamat, pemerintah akan mendongkrak ekonomi nasional yang seakan sedang bertumpu pada tongkat penopang.

Keretakan yang terasa dalam Partai Repulik pun dipandang oleh para pengikut sektesebagai pertanda bahwa siklus pemilu kali ini merupakan tanda tambahan bahwa mereka harus bersiap-siap menghadapi kiamat.

Seorang pria bernama Reg McDaniel aktif bergiat dalam urusan tambang selama beberapa tahun dan sudah membeli sejumlah saham. McDaniel amat yakin bahwa kiamat sedang menjelang sehingga ia melakukan persiapan.

Pada 2014, ia melakukan pendekatan kepada dewan direktur perusahaan dan mencoba menyumbang sejumlah bahan bangunan agar tambang bisa berjalan. Tawarannya ditolak secara halus.

Dewan direksi yang merupakan penganut Mormon menjelaskan bahwa mereka tidak akan melakukanya tanpa panduan yang jelas dari salah satu di antara Tiga Nefit, yang merupakan tokoh serupa malaikat dalam tulisan-tulisan Mormon.

McDaniel tidak mau kehilangan kesempatan. Ia mengatakan kepada Vice bahwa peran Role dalam pemilu merupakan manifestasi jelas akan nubuatan Koyle. Menurutnya, ia dan beberapa orang lainnya sudah menimbun makanan, amunisi, dan bahan lainnya untuk menyintas dalam tempat-tempat perlindungan di bawah tanah.

Delynn “Doc” Hansen, juga salah seorang pengikut sekte, meninggalkan bisnis kiropraktiknya beberapa tahun lalu untuk membantu mendirikan American Relief Mint di Santaquin, negara bagian Utah.

Percetakan logam itu mencukupi tagihan-tagihan dengan membuat koin nikel cenderamata, tujuan utamanya adalah untuk bersiap-siap mencetak koin dari pertambangan mereka.

Menurut Hansen, para pengikut Koyle memperingatkan orang-orang lain tentang bencana yang diramalnya, misalnya ramalan bahwa dalam sekejap orang terbangun dari tidur malam, lalu mendapati tidak ada lagi penghangat, listrik, atau bahan bakar. Hansen, McDaniel dan yang lainnya sedang mempersiapkan diri menghadapinya.

Para pemilik saham lainnya telah lama menunggu datangnya pertanda-pertanda. William Anderson, seorang pemegang saham sekaligus pengikut setia Koyle, sudah mempersiapkan tempat perlindungan lengkap dengan pasokan sejak beberapa tahun lalu.

Anderson memandang Donald Trumpsebagai penggenapan mimpi tentang gajah, tapi ia dan sejumlah temannya juga mengaku mendapatkan mimpi-mimpi lain yang meramalkan terjadinya sesuatu pada 2016. Misalnya, seorang pria di negara bagian Nevada mengaku bahwa Tuhan berfirman bahwa Trump adalah seorang hamba Tuhan.

“Ia difirmankan bahwa Tuhan menumpangkan tangan pada Trump, dan sejumlah tokoh lain dalam sejarah yang dulunya terkenal bengis. Tuhan juga dapat menggunakan mereka,” kata Anderson.

“Pertanyaannya sekarang adalah apakah Tuhan akan menggunakan Trump untuk menyelesaikan keruwetan ini atau semakin menjerumuskan? Secara pribadi, saya cukup pesimistis.”

Sebagaimana mereka yang percaya kepada pertambangan Koyle, Anderson sudah bersiap-siap. Dengan persiapan itu, ia bisa tenang menghadapi hari akhir.

“Begini, dengan adanya perang nuklir, kalau orang tinggal di tempat yang tepat, hal itu bukan masalah besar dan malah menjadi kelegaan,” ujar Anderson.

Menurutnya, kemungkinan besar sasarannya adalah kota-kota seperti Washington, DC. Katanya, “Tentang kota-kota yang mau mereka serang, silahkan saja.”

(red/endarmono/l/idarto/HAS)

loading...

Comments

comments!