Industri Otomotif Kekurangan Tenaga Ahli

redaksi.co.id - Industri Otomotif Kekurangan Tenaga Ahli Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Syarif Hidayat mengatakan, kendala terbesar dalam pengembangan industri nasional karena belum terhubungnya sistem pendidikan vokasi...

263 0

redaksi.co.id – Industri Otomotif Kekurangan Tenaga Ahli

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Syarif Hidayat mengatakan, kendala terbesar dalam pengembangan industri nasional karena belum terhubungnya sistem pendidikan vokasi dalam negeri dengan kebutuhan tenaga kerja industri. Hal ini membuat industri tetap kekurangan tenaga kerja meski jumlah pengangguran masih banyak.

Salah satunya adalah industri otomotif. Sektor ini masih minim tenaga ahli yang mumpuni dalam menumbuhkan industri tersebut. “Persoalannya karena pendidikan vokasi belum link and match dengan industri,” kata Syarif dalam Forum Group Discussion dengan tema Pengembangan SDM Industri, IKM dan Kendaraan Pedesaan Indonesia, di Jakarta, Selasa (29/11).

Keberadaan Institut Otomotif Indonesia (IOI) diharapkan bisa menjadi lembaga yang mampu menyinergikan seluruh pihak, baik akademisi maupun industri. Apalagi, IOI fokus mencari cara agar industri otomotif dalam negeri bisa menghasilkan kendaraan dengan SDM lokal.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Kemenperin Haris Munandar N menuturkan, pihaknya memiliki 300 peneliti serta 22 balai penelitian dan sertifikasi industri yang dapat dimaksimalkan untuk mendukung industri nasional.

Dari jumlah tersebut, terdapat dua balai yang bergerak di sektor otomotif. Keberadaan IOI diharapkan mampu menjembatani kendala akademisi otomotif yang selama ini berhenti pada tahap riset tanpa ditindaklanjuti dengan produksi massal. Di perguruan tinggi biasanya skalanya hanya pada riset. Di Kemenperin harus sampai skala produksi,” ucapnya.

Guru Besar Universitas Indonesia Teuku Yuri M Zagloel mengatakan, untuk mengembangkan industri otomotif nasional, dibutuhkan tiga faktor utama yakni keberadaan pasar, kemampuan produksi serta kekuatan finansial dan sumber daya manusia.

Pendidikan tinggi atau vokasi saja tidak cukup, harus memenuhi tiga faktor itu. Selain itu, kita harus punyagrand designsehingga seluruh aspek yang dibutuhkan dapat terukur dan diintegrasikan,” ujar dia.

(red/ijayanto/W)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!