10 Temuan di Dasar Laut yang Misterius dan Memukau

redaksi.co.id - 10 Temuan di Dasar Laut yang Misterius dan Memukau Berkat kemajuan teknologi, manusia bisa meneliti tentang Bumi, mengintip alam semesta dan mencari keberadaan kehidupan...

43 0

redaksi.co.id – 10 Temuan di Dasar Laut yang Misterius dan Memukau

Berkat kemajuan teknologi, manusia bisa meneliti tentang Bumi, mengintip alam semesta dan mencari keberadaan kehidupan nun jauh di di sana. Meski demikian, para ilmuwan paling mumpuni sekalipun kerap dibuat tercengang dengan lautan.

Masih banyak rahasia yang tersembunyi di kedalaman laut dan samudra, seperti struktur-struktur aneh atau penampakan yang baru terlihat dari angkasa.

Sementara itu, beberapa bagian laut telah lenyap atau sedang semakin surut. Bahkan, ternyata ada samudra yang bukan samudra.

Baca Juga

Dikutip dari List Verse pada Selasa (20/12/2016), berikut ini adalah 10 misteri yang mencengangkan:

10. Struktur ‘Donat’ di Great Barrier Reef

Sebuah dunia indah berbentuk donat ada di belakang Great Barrief Reef yang terkenal di lepas pantai .

Struktur donat itu sebenarnya lingkar-lingkar batu gamping yang berdempetan menjadi terumbu besar ke dua.

Bukan hanya bentuknya yang tidak biasa, struktur dengan luas 6.000 kilometer persegi ini juga mencengangkan bagi para ilmuwan. Usianya diperkirakan sekitar 10 ribu tahun dan cincin-cincinnya terbentuk oleh ganggang halimeda yang sudah mati.

Ketika ganggang jenis itu mati, ia berubah dari benda hidup berwarna hijau menjadi serpihan gamping berwarna pucat. Selama bertahun-tahun, ganggang itu bersama-sama menjadi fosil sehingga membentuk struktur berbentuk donat setebal 20 meter.

Para ahli tidak dapat menentukan apakah masih ada halimeda yang hidup di sana. Lautnya sendiri sedalam 46 meter sehingga hanya segelintir penyelam yang dapat mengunjungi terumbu.

Setelah kembali, semuanya memiliki cerita masing-masing yang saling berbeda, mulai dari dunia hijau di bawah sana hingga belantara batu gamping.

9. Benua Super Gondwana

Planet bumi dulunya memiliki suatu benua super yang disebut Gondwana. Melalui upaya internasional untuk memetakan Perth Abyssal Plain di Samudra Hindia, para ilmuwan menemukan dua pulau yang terbenam pada 1,5 kilometer di bawah laut.

Ukurannya hampir sebesar Tasmania di Australia. Benua kecil itulah yang menjadi penghubung India dan Australia sebelum keduanya berpisah.

Para peneliti menyadari adanya benua kecil di bawah mereka ketika mereka menduga mendapatkan cadas basal yang lazim, tapi malah mendapatkan batuan benua dengan fosil-fosil.

Bagian-bagian Gondwana yang dulunya merekat benua-benua sekarang telah menjadi pulau-pulau ketika pantai-pantai India dan Australia bergerak menjauh.

Setelah dipelajari lebih mendalam, benua-benua kecil ini akan mengubah pandangan selama ini tentang caranya lempeng tektonik terbelah menjadi bagian-bagian yang sekarang menjadi India, Australia, dan Antartika (Kutub Selatan).

8. Siulan Karibia

Laut Karibia memperdengarkan siulan pada nada As beberapa oktaf di bawah. Suaranya terlalu pelan untuk terdengar oleh telinga manusia, tapi dapat didengar dari angkasa.

Hebatnya, suara itu dihasilkan oleh proses 120 hari yang bermula di dasar laut. Faktor utama yang terlibat di sini adalah luas Laut Karibia itu (sekitar 1 juta mil persegi) dan perilaku alam yang dikenal sebagai gelombang Rossby.

Gelombang itu muncul ketika suhu air berubah dalam beberapa tingkatan berbeda dan dipengaruhi oleh rotasi planet Bumi. Gelombang itu merambat sepanjang dasar laut, redup di sisi barat sebelum muncul lagi di perbatasan sisi timur.

Proses ini dikenal sebagai ‘lubang cacing Rossby’ dan menjadi satu-satunya gelombang yang cukup lama mencapai ujung satu lagi, bergetar selama 120 hari sambil menghasilkan siulan. Kadang-kadang, gejala itu cukup mengganggu medan gravitasi bumi yang cukup terbaca oleh satelit di angkasa.

7. Air Terjun Bawah Air

Ada air terjun raksasa di bawah laut. Sedikit di selatan khatulistiwa antara Afrika dan Amerika Selatan, ada aliran ‘amblas’ yang tingginya seperti pencakar langit. Lebih hebat lagi, kadang-kadang ada gelombang-gelombang seperti ombak yang ditemukan dekat pantai.

Keajaiban itu dikenal secara ilmiah sebagai gelombang Kelvin-Helmholtz dan terjadi ketika fluida-fluida bergerak bersama tapi dengan kecepatan berbeda. Gelombang Kelvin-Helmoltz inilah yang menyebabkan terjadinya beberapa pusaran Saturnus yang menakjubkan.

Kecepatan yang berbeda di dalam ngarai bawah laut sebagai tempat asal aliran disebabkan oleh dua arus yang saling menekan dengan kecepatan dan suhu yang bertolak belakang. Hal itu memperkuat rekasi terhadap permukaan dasar laut yang tidak rata, sehingga menghasilkan gelombang-gelombang selancar.

Di air terjun, para ilmuwan terkesima melihat adanya 250 gelombang yang terus menerus saling mengikuti sehingga menjadi yang terpanjang dalam lautan. Beberapa gelombang bahkan memiliki ketinggian 100 meter.

8. Ledakan Bintang

Di masa lalu, sebuah bintang meledak dan serpihan-serpihannya tiba di Samudra Pasifik. Kejadiannya bukan seperti kerlap-kerlip bintang, tapi lebih cocok dijelaskan sebagai ledakan katastrofik supernova Jenis II.

Bintang-bintang maha besar yang mengalami supernova melontarkan zat besi-60 ketika mereka meredup. Para peneliti Jerman melakukan pengeboran di Pasifik dan menemukan sesuatu yang unik yang terdapat dalam sisa-sisa bakteri magnetis.

Untuk diketahui, zat besi-60 tiba di Bumi sekitar 2,7 juta tahun lalu dan menghujani selama 800 ribu tahun. Bakteri temuan itu, yang memiliki kristal magnetik dalam tubuhnya, diduga mengunyah zat besi dari angkasa tersebut.

Sisa-sisa fosilnya masih mengandung zat besi-60 yang usianya terlalu muda untuk ukuran planet Bumi, sehingga para peneliti menyimpulkan bawa asal-mualnya bukan dari Bumi ini, tapi kemungkinan besar berasal dari ledakan supernova berjarak 50 tahun cahaya dari matahari. Sementara itu, zat besi-60 yang berasal dari bumi sudah lama musnah.

5. Lempeng yang Hilang

Ada sebuah lubang di Bumi dan para ilmuwan tidak mengetahui mengapa bisa demikian. Biasanya, ketika lempeng tektonik menjauh, mantel di bawahnya mengucur ke atas, meleleh, dan mengisi celahnya seperti penutup luka.

Tapi, ada yang salah kali ini. Suatu celah di Atlantik, antara kawasan Karibia dan kepulauan Cape Verde, tidak memperbaiki dirinya. Ketika para ilmuwan meneliti suatu kawasan yang ada 5 kilometer di bawah permukaan, di dasar laut yang biasanya setebal 7 kilometer, mereka mendapati adanya lempeng yang hilang seluas beberapa kilometer persegi.

Salah satu petunjuk adalah adanya serpentinit yang terbentuk ketika air laut bersentuhan dengan mantel. Di tempat itu, keberadaan serpentinit mengungkapkan bahwa, karena beberapa alasan, mantelnya tidak meleleh sebagaimana seharusnya. Rekahan itu diduga merupakan kejadian traumatis sehingga mencabik seluruh bagian lempengan.

4. Musnahnya Laut Atlantik

Ada daerah subduksi baru yang dapat meyebabkan laut Atlantik lenyap dalam waktu 220 juta tahun. Daerah subduksi terjadi ketika suatu lempeng tektonik terus menekan ke bawah lempeng lain yang lebih ringan sambil kemudian meleleh kembali menjadi mantel.

Subduksi itu teramati 200 kilometer lepas pantai Portugal, tapi belum mencapai tahap ketika dua lempeng itu saling dorong ke atas atau ke bawah.

Sekarang ini, dua lempeng itu masih sebagai lempeng tunggal, yaitu lempeng Eurasia yang menjadi landasan benua Eropa dan sebagian benua Asia. Tapi, lempeng itu mulai retak dan akan menjadi cikal bakal sebuah kawasan yang kemudian menjadi tempat saling dorong antara dua lempeng itu.

Akibatnya, Eropa dan Amerika Utara akan saling mendekat. Penggabungan benua itu akan menyebabkan munculnya kawasan pegunungan sejenis Himalaya. Laut Atlantik tidak ada lagi.

Penelitian geologis tambahan di kawasan itu mengungkapkan bahwa Laut Tengah juga tidak terluput dari dampaknya karena Eropa dan Afrika juga akan bergabung.

3. Tamu Massif

Gunung berapi di tata surya adalah Olympus Mons di planet Mars. Sekarang ini, ada saingannya di Pasifik dengan luas 310 ribu kilometrer persegi dan terletak jauh di dasar laut.

Tidak seperti benda laut lain yang biasanya muncul dulu di atar permukaan selama beberapa saat sebelum akhirnya tenggelam, Tami Massif diduga belum pernah mencuat di permukaan laut.

Saat ini ada laut setebal 2 kilometer di atas puncak gunung berapi tersebut. Strukturnya berbentuk perisai dan melandai ke arah timur Jepang dan terbentuk 145 juta tahun lalu.

Volkano itu merupakan volkano tunggal terbesar di Bumi dan telah punah selama ia juga pernah aktif. Landasannya menghujam jauh ke perut bumi, hingga 30 kilometer dalamnya.

2. Kembang Aneh

Ekspedisi NASA di Laut Kutub Utara menemukan sesuatu di bawah laut yang membuat heran para ilmuwan, yaitu rekahan fitoplankton yang di suatu bagiannya bisa mengembang hingga 116 kilometer.

Sebelumnya, fitoplankton diduga bertambah banyak hanya setelah bongkahan es meleleh saat musim panas. Tapi, sekitar 1 meter di bawah permukaan es, organisme itu menggandakan populasinya beberapa kali dalam sehari.

Secara normal, di laut terbuka ketika cukup tersedia sinar matahari untuk pertumbuhan, ekspansi demikian memerlukan waktu 3 hari.

‘Kembang’ Kutub Utara adalah yang terbesar untuk jenisnya. Diduga terjadi penghangatan karena es yang menipis sehingga memungkinkan lebih banyak sinar matahari.

Para pakar menjadi khawatir karena fitoplankton penting untuk spesies yang bermigrasi karena fitoplankton menjadi santapan hewan-hewan itu. Biasanya, hewan-hewan migrasi tiba bersamaan dengan rekahan fitoplankton. Sehingga, jika mengembang lebih dini, dikhawatirkan terjadinya gangguan rantai pangan yang dapat menyebabkan kelaparan.

1. Lautan Dalam Bumi

Samudra terbesar di Bumi ada jauh di dalam planet. Beberapa kilometer di bawah lempengan ada lapisan ringwoodite, yaitu bebatuan yang berperilaku seperti busa. Kristalin pada ringwoodite memungkinkannya menyerap air.

Para ahli geologi memperkirakan bawah ada suatu wilayah sangat luas pada mineral itu sehingga bisa menyimpan seluruh air di samudra bumi hingga 3 kali lipatnya.

Sebelumnya, siklus air Bumi disebut-sebut berasal dari komet es yang menabrak sewaktu planet ini masih muda. Teori itu didukung oleh penjelasan yang paling mumpuni, tapi sekarang para ilmuwan mulai melihat lebih dalam ke Bumi, bukan ke angkasa.

Setelah beberapa dekade, mereka menemukan adanya reservoir ringwoodite. Sekarang, terbukalah kemungkinan bahwa air di Bumi berasal dari dalamnya sendiri.

Di masa lalu, proses-proses geologi mungkin telah mendorong air yang terkunci itu ke permukaan, tapi tidak semuanya. Seandainya semua air itu terdorong ke luar, maka daratan yang tersisa hanyalah yang merupakan tempat-tempat tinggi.

(red/ahyu/etyo/armawan/WSD)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!