Jadi Sinterklas Saat Natal, Duterte Tunjukkan 'Sisi Lembutnya'

redaksi.co.id - Jadi Sinterklas Saat Natal, Duterte Tunjukkan 'Sisi Lembutnya' Presiden Filipina Rodrigo Duterte rencananya akan berperan jadi Sinterklas di depan para pasien kanker anak di...

29 0

redaksi.co.id – Jadi Sinterklas Saat Natal, Duterte Tunjukkan 'Sisi Lembutnya'

Presiden Filipina Rodrigo Duterte rencananya akan berperan jadi Sinterklas di depan para pasien kanker anak di Southern Philippines Medical Center pada Sabtu 24 Desember 2016.

Meski kerap mengunjungi dan membagikan hadiah Natal untuk para pasien kanker di sana saat masih menjadi wali kota, ini akan jadi kali pertamanya bagi Duterte sebagai presiden.

Duterte dikenal sebagai sosok sangar dan sadis — dengan mengobarkan perang brutal melawan narkoba, namun ia ternyata punya sisi lembut.

Seperti dikutip dari situs media Filipina, Inquirer, pria yang akrab dipanggil Digong itu punya hati lembut untuk para pasien kanker, terutama anak-anak.

Ia bahkan menyumbangkan salah satu rumahnya untuk para pasien kanker, demikian informasi dari Davao Childrens Cancer Fund.

Sementara, dalam pesan Natalnya, Duterte berharap kedamaian, keteraturan, dan kemajuan bagi rakyat Filipina.

“Selamat Natal bagi Anda sekalian, keluarga saja, para kolega di pemerintahan, mari kita semua berharap datangnya tahun baru yang penuh berkah,” kata Duterte, yang merayakan Natal di kampung halamannya Kota Davao, seperti dikutip dari Sun Star.

Di sisi lain, doa Natal untuk Duterte diucapkan Senator Leila De Lima. Ia berharap sang pemimpin mendapatkan ‘keajaiban Natal’.

“Saya berharap sebuah kejaiban Natal di mana Presiden bangun tidur pada 25 Desember dengan penuh kesadaran, memberikan hadiah pada rakyat seluruh negeri dengan menghormati hak setiap Filipina untuk hidup,” kata De Lima seperti dikutip dari CNN.

“Saya berharap keajaiban Natal sehingga presiden memerintahkan semua bentuk eksekusi, baik oleh polisi maupun pasukan maut yang berkeliaran di jalanan, untuk dihentikan.”

De Lima, kelompok pembela hak asasi manusia, dan sejumlah komunitas internasional berulang kali mengkritik perang narkoba — yang dianggap memungkinan pembunuhan ekstrayudisial.

(red/hmad/yaiku/AS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!