Batalyon Sepak Bola, Bertarung Hingga ke Garis Depan

redaksi.co.id - Batalyon Sepak Bola, Bertarung Hingga ke Garis Depan Selama Perang Dunia I, berbagai cabang olahraga seakan mati suri. Namun tidak demikian dengan sepak bola....

22 0

redaksi.co.id – Batalyon Sepak Bola, Bertarung Hingga ke Garis Depan

Selama Perang Dunia I, berbagai cabang olahraga seakan mati suri. Namun tidak demikian dengan sepak bola. Olahraga sebelas lawan sebelas ini tetap jadi primadona. Sepak bola bahkan meninggalkan jejak di arena pertempuran.

Saat perang dunia I pecah, kompetisi rugbi dan kriket di tanah Inggris ikut berhenti. Namun tidak dengan sepak bola yang tetap menggulirkan kompetisi pada musim 1914-1915.

Ini membuat pemuda-pemuda di Inggris dihadapkan kepada pilihan sulit. Sebab untuk ikut angkat senjata, mereka harus mendapat izin dari klub yang mengontrak mereka selama ini.

Meski demikian, hasrat untuk terjun langsung di arena pertempuran sangat sulit dibendung. Pada 12 Desember 1914, William Joynson Hicks justru membentuk resimen khusus pemain bola yang diberi nama 17th Service (Football) Battalion of the Middlesex Regiment yang kemudian dikenal sebagai Batalyon Sepak Bola.

Joynson sendiri tidak punya latar belakang pesepak bola. Orang tuanya, Henry Hicks dan Grace Lynn, juga bukan atlet. Setelah perang usai, pria kelahiran 23 Juni 1865 tersebut justru lebih aktif di dunia politik.

Sekretaris FA, Frederick Wall, mengatakan, gelandang timnas Inggris, Frank Buckley menjadi pesepak bola pertama yang bergabung dengan pasukan Joynson. Selebihnya, karena terkendala kontrak, pasukan Batalyon Sepak Bola lebih banyak dihuni oleh pemain amatir semacam Vivian Woodward dan Evelyn Lintott.

Buckley tak hanya piawai di lapangan hijau. Saat bergabung, dia juga sudah punya pengalaman sebagai tentara Inggris berpangkat Letnan. Dia kemudian diangkat menjadi Mayor.

Batalyon Sepak Bola cepat terkenal. Hanya beberapa pekan saja, jumlah personelnya sudah mencapai 600 orang. Sebagian besar merupakan penduduk lokal yang ingin bergabung di skuat yang sama bersama idolanya. Dua kelompok besar yang bergabung adalah fans Chelsea dan Queens Park Rangers yang ingin membantu Vivian Woodward dan Evelyn Lintott.

Primadona

Menurut Ian Nannes dalam bukunya, Soccer History, Batalyon ini diharapkan mampu menjaring 1350 tentara yang berasal dari pemain amatir dan profesional serta suporter. Perekrutan dilakukan terhadap laki-laki yang belum menikah dengan perkiraan awal pemain profesional mencapai 600 orang.

Basis perekrutan berasal dari utara Inggris, meski di awal disebutkan, pihak tentara hanya akan melakukan perekrutan dari klub-klub selatan sungai Trent. Minat masuk Batalyon sepak bola awalnya sangat tinggi di mana 4-500 orang hadir setiap pertemuan.

Meski demikian, hanya 35 orang yang diterima. Dan pada akhir tahun, Batalyon Sepak Bola hanya tercatat ketambahan 35 nama saja.

Pada bulan Maret 1915, dilaporkan 122 pesepak bola profesional bergabung dengan Batalyon Sepak Bola. Ini termasuk tim inti Clapton Orient. Tiga di antara mereka terbunuh di barisan depan.

Pada akhir tahun, Walter Tull, mantan Tottenham Hotspur, Northampton Town, dan Glasgow Rangers, juga ikut bergabung. Mayor Buckley segera menyadari bakat kepemimpinan Trull lalu mempromosikannya jadi sersan.

Maju ke medan laga

Pada 15 Januari, Batalyon Sepak Bola akhirnya tiba di garis depan. Selama dua pekan pertempuran, empat anggotanya tewas dan 33 lainnya luka-luka. Termasuk, Vivian Woodward yang tekena pecahan granat di bagian kaki. Saking parahnya luka yang dialam, Woordward kemudian dibawa ke Inggris dan tidak kembali ke arena pertempuran hingga Agustus 1916.

Banyak anggota Batalyon Sepak Bola yang gugur di pertempuran Somme yang berlangsung di bulan Juli. Salah satunya, pemain timnas Inggris, Evelyn Lintott. Pertempuran masih berlangsung saat Woodward tiba meski intensitasnya melemah.

Namun pada 18 September, Jerman menyerang lagi dan menggunakan gas beracun. Sebanyak 18 personel Batalyon Sepak Bola kembali terbunuh. Mayor Frank Buckley juga terluka parah pada pertempuran ini. Dia terkena sepihan besi di dada yang melubangi paru-parunya.

George Pyke yang bermain untuk Newcastle kemudian menulis, ” Sebuah pesta tandu melewati parit pada saat itu. Mereka bertanya apakah kami punya penumpang untuk kembali. Mereka mengambil Mayor Buckley tapi ia tampak begitu terpukul, Anda tidak akan berpikir dia akan bertahan keluar jauh dari Stasiun Kliring Casulalty.”

Buckley akhirnya dilarikan ke rumah sakit Kent untuk menjalani operasi. Serpihan besi di tubuhnya berhasil diangkat. Tapi paru-parunya rusak sehingga dia tidak bisa main sepak bola lagi.

Korban terus berjatuhan seiring kian berkecamuknya perang. Pada Januari 1917, Mayor Buckley kembali ke Western Front. Batalyon Sepak Bola lalu melancarkan serangan ke posisi Jerman di Argenvillers. Pasukan Buckley maju dengan gagah berani meski lawan menggunakan gas beracun. Buckley yang mengalami kerusakan paru-paru akhirnya dipulangkan lagi ke rumahnya.

Walter Trull juga tak kalah garang. Setelah tinggal di Italia hingga 1918, dia kemudian dipindah ke Prancis untuk menyerbu pasukan Jerman di garis depan Western. Pada 25 Maret 1918, dia juga memimpin pasukannya menyerang Jerman di Favreuil.

Namun sesaat setelah memasuki No Mana Land, dia tertembak

Sementara itu, Buckley mencatat perlawanan yang dilakukan pasukannya. Dia kemudian menulis, bahwa sejak pertengahan 1930, lebih dari 500 dari 600 anggota awal Batalyon Sepak Bola terbunuh dalam pertempuran.

(red/usland/argarito/RM)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!