Inilah Warga Australia Pembuat Perubahan di Sepanjang 2016

redaksi.co.id - Inilah Warga Australia Pembuat Perubahan di Sepanjang 2016 Tahun ini, Australia Plus telah memprofilkan beberapa orang yang paling inspiratif di seluruh Australia. Mahasiswa, pengungsi,...

41 0

redaksi.co.id – Inilah Warga Australia Pembuat Perubahan di Sepanjang 2016

Tahun ini, Australia Plus telah memprofilkan beberapa orang yang paling inspiratif di seluruh Australia. Mahasiswa, pengungsi, seniman, dokter, dan relawan, semuanya bekerja untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Berikut adalah 10 warga Australia yang telah menciptakan perubahan baik di tahun 2016.

Mili Udani dan keluarganya memahami secara langsung bagaimana donasi organ bisa membuat dampak positif pada kehidupan orang lain.

Mereka sedang berada dalam liburan panjang di India untuk mengunjungi orang-orang terkasih ketika, beberapa hari sebelum kembali ke Australia untuk menyambut musim sekolah baru, anak mereka Deyan yang berusia 7 tahun mengeluh sakit kepala yang intens. Ia meninggal seminggu kemudian akibat pembekuan darah dan pendarahan pada otak.

Deyan menjadi donor organ termuda di India, dan mampu menyelamatkan nyawa empat orang, termasuk seorang anak perempuan berusia tujuh tahun yang menerima hatinya.

Kini, Mili dan suaminya -Rupesh -menkampanyekan donor organ dengan berbagi kisah Deyan di beragam acara publik.

ABC: Lisa Clarke

“Semua yang saya pikirkan, bahwa itu adalah keinginan anak saya dan saya harus melakukannya.”

– Mili Udani

Delapan tahun lalu, undangan dari seorang teman untuk bergabung dengan perjalanan kemanusiaan ke Kamboja adalah awal dari hubungan abadi Dr Van Tung Bui dengan negara itu dan rakyatnya.

Ahli anestesi Australia kelahiran Vietnam ini adalah salah satu dari segelintir relawan yang melakukan perjalanan ke daerah-daerah terpencil di seluruh Kamboja setiap tahunnya dengan lembaga amal Kamboja Vision, membantu memulihkan penglihatan mereka yang buta akibat katarak.

Latar belakang Van sendiri sebagai pengungsi Vietnam memberinya wawasan yang unik tentang mengapa pekerjaan kemanusiaan sangatlah penting.

ABC: Lisa Clarke

“Saya suka pekerjaan ini. Pekerjaan ini membuat perbedaan. Hanya sejumlah kecil orang yang datang tetapi itu berarti banyak untuk mereka.”

– Dr Van Tung Bui

Setelah bekerja sebagai guru selama 35 tahun, pensiunan Australia, Heather Black, membuat keputusan berani untuk berkemas dan pindah ke negara pulau, Kiribati, untuk menjadi relawan di satu-satunya sekolah kebutuhan khusus di negara itu.

Selama 15 bulan terakhir, Heather telah bekerja di Sekolah dan Pusat Anak Berkebutuhan Khusus Kiribati untuk membantu staf di sana menerbitkan kamus bahasa isyarat pertama di negara itu.

Kamus tersebut adalah langkah pertama untuk membangun sebuah komunitas tuna rungu di mana orang-orang berbagi bahasa yang sama, mengembangkan rasa memiliki, membangun kepercayaan diri dan mengkampanyekan kesadaran dan pemahaman akan tunarungu dalam komunitas yang lebih luas.

Supplied.

“Anak-anak tunarungu umumnya lebih ekspresif, terbuka, jujur dan menghargai ketimbang anak-anak yang mampu mendengar, membuat mereka (penyandang tunarungu) sebagai kelompok yang menyenangkan untuk diajak kerja sama.”

– Heather Black

Seniman yang berbasis di Sydney, Abdul Abdullah, mengalami sendiri bagaimana rasanya dihakimi karena nama atau agama anda.

Pria yang menjadi generasi ketujuh keluarganya yang menetap di Australia ini telah mendapat tanggapan keras, dan kadang-kadang kasar, terhadap karyanya yang membahas pengalaman Muslim muda Australia.

Finalis penghargaan Archibald Prize yang berpikiran politik ini dengan sengaja menciptakan karya yang terpolitisasi untuk menantang stereotip dan mengundang komentar di tengah masyarakat.

Supplied

“Saya dipengaruhi oleh diskusi politik yang sedang berlangsung di Australia yang telah menciptakan sebuah lingkungan di mana pendapat yang diterima menyangkut warga Muslim dan minoritas lainnya telah bergeser ke cara yang tidak menguntungkan.”

– Abdul Abdullah

Dr Sanjeev telah tinggal di Mackay, Queensland, selama 18 tahun terakhir bekerja sebagai ahli urologi dengan fokus pada isu-isu kesehatan pria.

Sejak tahun 2008, ia telah mengumpulkan lebih dari 200.000 dolar (atau setara Rp 2 miliar) untuk Movember, di bulan November, yakni gerakan yang meminta para pria di seluruh dunia menumbuhkan kumis mereka untuk mengumpulkan dana dan meningkatkan kesadaran akan masalah kesehatan pria seperti kanker prostat, kanker testis dan bunuh diri.

Ia terkejut akan begitu banyak dukungan dari komunitasnya karena adanya periode sulit di wilayah ini setelah penurunan dalam industri pertambangan.

ABC: Daniel Battley

“Tahun ini, saya yang tertinggi keempat di dunia, dan penggalang dana individu tertinggi di Australia.”

– Dr Sanjeev Bandi

Ibu Dunya Alruhaimi menekankan pentingnya pendidikan untuk putrinya yang kelahiran Irak -menggambarkan bahwa pendidikan adalah “senjata ampuh yang dibutuhkan setiap perempuan”.

Dunya, yang kini tinggal di Armidale, sedang mempelajari Master Pendidikan di Universitas New England, dan menggunakan waktu luangnya untuk membantu sejumlah perempuan dan ibu asal Irak dengan menjadi relawan penerjemah bahasa Arab, dan mengorganisir kegiatan renang serta pelajaran mengemudi.

ABC: Jennifer Ingall

“Pendidikan tidak hanya duduk di kelas dan belajar dari guru. Pendidikan juga mencakup keterlibatan masyarakat -Anda bisa belajar dengan terlibat dalam budaya Australia.”

– Dunya Alruhaimi

Lewat blog-nya Mundane Matters, Danling Xiao menciptakan pahatan buah dan sayuran serta pengalaman sensorik menggunakan bahan-bahan dari alam untuk menjaga pikiran dan menginspirasi kehidupan kreatif yang berkelanjutan.

Danling mulai membuat satu pahatan buah atau sayuran dalam sehari, dan dengan cepat mendapat perhatian. Akun Instagram resmi mengakui karya-karyanya dan menampilkan salah satunya kepada 191 juta pengikut.

Proyek yang dilakukan Danling tak melulu tentang menggambar buah mungil yang mengundang puja-puji orang. Ketimbang menciptakan seni untuk seni, Danling bertujuan untuk berbagi ide dengan orang lain dan meningkatkan kesadaran tentang hidup berkelanjutan. Setelah foto tersebut diambil, Danling mengolah beragam masakan untuk makan malam, karena ia memiliki kebijakan tanpa sampah.

ABC: Lisa Clarke

“Banyak orang lapar, dan mereka bahkan tak memiliki makanan untuk dimakan, tapi kami di negara maju membuang-buang jutaan ton makanan.”

– Danling Xiao

Ketika Dai Aoki pertama kali pindah ke Australia pada tahun 2001 dari Jepang, ia terkena HIV setelah berhubungan seks tanpa kondom.

Setelah semua yang ia lalui, Dai telah mengubah hidupnya. Saat ini, ia sedang menjalani terapi antiretroviral dan merasa lebih sehat dari sebelumnya.

Dai, baru-baru ini, menjadi duta untuk kampanye Good Quality of Life (Hidup Berkualitas Baik) dan berharap bahwa dengan berbagi ceritanya, bahkan jika hanya satu orang yang merasa lebih terdidik tentang seks yang aman, atau mempertanyakan kesalahpahaman mereka sendiri tentang orang-orang yang hidup dengan HIV, hidupnya begitu bermakna.

ABC: Lisa Clarke

“Ini telah membuat saya menjadi orang yang lebih baik, itu sebabnya saya tak menyesali apapun tentang sejarah atau pengalaman masa lalu saya.”

Setelah melarikan diri dari Afghanistan yang dilanda perang dengan hanya 100 dolar (atau setara Rp 1 juta) di dalam sakunya, Zaki Haidari tiba di Australia sebagai pencari suaka.

Ia bekerja keras untuk menerima beasiswa untuk belajar Bisnis dan Pemasaran di Martin College Sydney, yang menyadari impian seumur hidupnya untuk mendapatkan pendidikan.

Di waktu luangnya, Zaki menjadi relawan pemandu wisata kuliner -melalui dewan lokal di Sydney Barat – dan mengajak wisatawan untuk merasakan dan mengalami multikulturalisme lewat makanan.

ABC: Yale MacGillivray

“Australia adalah negara yang penuh peluang, jadi cobalah untuk berbuat yang terbaik ketika Anda bersekolah. Ketika Anda menyelesaikan studi, Anda tak hanya mendapat gelar -Anda juga mendapatkan banyak pengalaman.”

– Zaki Haidari

Sukhjit Kaur Khalsa adalah aktivis Sikh yang meraih ketenaran berkat ajang pencarian bakat Australias Got Talent, setelah membacakan sebuah puisi tentang pengalaman pribadi dan keluarganya seputar rasisme dan diskriminasi di Australia.

Dengan karisma dan humor, Sukhjit berbagi cerita kepada penonton soal visinya akan “Australia yang bersahabat” dan menyoroti sejarah 150 tahun kaum Sikh di Australia.

Ia percaya, hal yang benar-benar penting untuk menggunakan ironi, sarkasme, humor -bersama dengan kemarahan -untuk mengatasi kebenaran dan realitas yang keras dari rasisme, yang harus dihadapi.

Supplied: Sukhjit Kaur Khalsa

“Kami memiliki konsep dalam agama Sikh yang disebut seva, yang berarti pelayanan tanpa pamrih. Anda bisa menafsirkan itu dalam arti harfiah dan fisik -.yakni membantu para tunawisma dan memberi bantuan dalam situasi bencana alam. Saya juga mengartikan seni sebagai cara saya melayani masyarakat dan dunia saya.”

– Sukhjit Kaur Khalsa

(red/hmad/yaiku/AS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!