'Gurita Bisnis' Trump, dari Bogor hingga Buenos Aires

redaksi.co.id - 'Gurita Bisnis' Trump, dari Bogor hingga Buenos Aires Aktivitas Donald Trump di kerajaan bisnis yang ia jalankan berpotensi memicu konflik kepentingan ketika resmi dilantik...

26 0

redaksi.co.id – 'Gurita Bisnis' Trump, dari Bogor hingga Buenos Aires

Aktivitas Donald Trump di kerajaan bisnis yang ia jalankan berpotensi memicu konflik kepentingan ketika resmi dilantik menjadi Presiden Amerika Serikat.

Trump memiliki bisnis baik di dalam AS sendiri maupun di sedikitnya 25 negara, termasuk Indonesia, yang kesemuanya berada di bawah payung usaha The Trump Organization.

Sebagai kepala eksekutif atau kepela pemerintahan tentu ia bisa mengeluarkan keputusan-keputusan, baik yang bersifat domestik maupun internasional, yang menguntungkan kerajaan bisnisnya, kata sejumlah politikus dari Partai Demokrat.

Sebagian besar penerimaan bisnis Trump berasal dari pembangunan berbagai properti dan lapangan golf, tapi ia juga menjual nama Trump ke sejumlah pengusaha properti di berbagai negara.

Sebagai presiden ia dibolehkan tetap berbisnis namun berdasarkan pengalaman masa lalu, presiden yang punya perusahaan menyerahkan pengelolaannya ke badan yang biasa disebutblind trust.

Ini semacam perwalian atau administrator independen yang menjalankan perusahaan demi mencegah konflik kepentingan.

“Blind trust inilah yang akan memegang uang dan aset Trump selama ia menjabat sebagai presiden dan Trump tak punya suara atas uang dan aset tersebut,” kata analis risiko Stephanie Hare kepada BBC, Rabu (11/1/2017).

“Yang kita ketahui sejauh ini adalah payung usaha Trump akan dijalankan oleh dua anaknya. Artinya masih ada hubungan langsung antara Trump dan berbagai usaha yang dikendalikan dua anaknya. Situasi ini bisa berpotensi memicu konflik kepentingan,” jelas Hare.

Di mana saja kepentingan bisnis Trump?

Di Indonesia

Di Indonesia, Trump sudah meneken kerja sama untuk membangun resor mewah ‘berbintang enam’ di Bali dan Bogor, Jawa Barat.

Harian New York Timesmemberitakan bahwa Trump mendirikan dua perusahaan pada pertengahan 2015 untuk menyiapkan pembangunan properti di Bali dan Bogor.

Mitra Trump di Indonesia, Hary Tanoesoedibjo, dan juru bicara The Trump Organization menegaskan bahwa dua proyek di Indonesia ini akan jalan terus dan Hary kepadaNew York Timesmengatakan “tak akan ada konflik kepentingan” dalam proyek ini.

Di Buenos Aires, Argentina, perusahaan setempat mengumumkan akan membangun gedung perkantoran dengan menggandeng Trump setelah beberapa tahun mengalami penundaan.

Sedang di Kanada, The Trump Organization memiliki kesepakatan lisensi dengan dua hotel, masing-masing di Toronto dan Vancouver.

Hotel di Vancouver akan dibuka Januari ini namun pembangunan hotel di Toronto harus dilelang karena pengembang dinyatakan bangkrut November lalu.

The Bank of China adalah salah satu bank terbesar di China dan mayoritas sahamnya dimiliki pemerintah. Bank ini mengeluarkan pinjaman 850 juta dollar AS kepada New York Building, yang antara lain dimiliki oleh Trump.

Salah satu bank milik pemerintah China, The Industrial and Commercial Bank of China, punya kantor di Trump Tower dan membayar sewa ke Trump Organization.

Sementara itu, menantu Trump yang kini diangkat menjadi penasehat senior Gedung Putih, Jared Kushner, tengah merundingkan proyek poperti di 666 Fifth Avenue di New York dengan perusahaan China, Anbang Insurance Group.

Masih ada proyek atau kepentingan bisnis Trump di India, Jepang, Filipina, Taiwan, Turki, dan Inggris, yang membuat banyak kalangan khawatir ini semua akan memicu konflik kepentingan ketika Trump resmi menjadi presiden menggantikan Barack Obama.

Editor: Pascal S Bin Saju

Sumber:

Copyright Kompas.com

(red/ambertus/usi/urek/LLH)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!