Oon "Project Pop" Si Serius Penggila Gawai

23

redaksi.co.id – Oon "Project Pop" Si Serius Penggila Gawai

Wawan Darmawan, personel grup vokal Padhyangan Project membagi kisahnya saat bersama almarhum Mochamad Fachroni atau Oon Project Pop. Perkenalan diawali saat dirinya menjadi penyiar salah satu radio swasta di Bandung.

“Berlanjut ke pembuatan lagu ‘Nasib Anak Kos’ tahun 1992-1993. Oon jadi backing vocal, ujar Wawan di rumah duka, Jalan Bintang 15 Komplek Kopo Elok Bandung, Jumat (13/1/2017).

Saat pembuatan lagu, Oon kerap disebut Oon Baskom atau Pak Dudung. Karena dalam lagu Nasib Anak Kos, Oon bernyanyi akapela berbunyi “dung dung dung”.

Di saat yang sama, Oon dipercaya sebagai manajer keuangan. Administrasi dan akuntansinya rapi, Padhyangan Project bahkan harus mampu meluluhkan Oon jika ingin mengajukan pinjaman.

“Project Pop ini line up kedua kami, tapi beda manajemen. Kalau kami (Project Pop dan P Project) kumpul, pasti rame sekali. Hanya dia yang serius,” ungkapnya.

Wawan menjelaskan, sosok ceria Oon hanya di depan panggung. Sedangkan di belakang panggung, ia lebih serius dibanding teman-temannya yang lain.

Bahkan ia pernah berada dalam satu adegan bareng, ketika yang lain kerap melemparkan celetukan, Oon termasuk yang jarang. Hal lain yang Wawan ingat adalah Oon orangnya lebih kekinian.

Ketika orang lain belum memiliki gawai tertentu, maka Oon sudah memilikinya. Biasanya, ketika ia memiliki gawai atau peralatan canggih baru, ia akan mengumumkannya kepada teman-temannya.

“Oon suka fotografi dan selalu update masalah teknologi. Kalau sama Izur Muchtar mereka nyambung ngomongin itu,” ungkapnya.

Wawan mengaku sangat kehilangan Oon, begitupun anggota Project Pop. Teman-temannya di Project Pop selalu hadir disaat Oon kritis.

“Mereka (anggota Project Pop) tidak memungkinkan hadir di sini. Karena lokasi event-nya dari Palembang, butuh lima jam,” ujarnya.

Anggota Project Pop, sambung Wawan, sudah mengikhlaskan. Begitupun dirinya.

“Terakhir saya menengok dua minggu lalu. Saat itu, gula nya normal namun keratin tinggi sehingga mengganggu kondisi ginjalnya. Karenanya dalam sebulan minimal ia harus 10 kali cuci darah,” tutupnya.

Setelah berjuang melawan penyakitnya, Oon mengembuskan napas terakhir di kediaman orangtuanya di Kopo, Bandung, Jumat (13/1/2017). Oon meninggal dalam usia 44 tahun, meninggalkan seorang istri dan dua orang anak.

Penulis: Kontributor Bandung, Reni Susanti

Editor: Irfan Maullana

Copyright Kompas.com

(red/ambertus/usi/urek/LLH)

loading...

Comments

comments!