Digicoop Pembuktian Ponsel Pintar Buatan Lokal

oleh

redaksi.co.id – Digicoop Pembuktian Ponsel Pintar Buatan Lokal

Indonesia memiliki ponsel buatan sendiri ternyata bukan lagi sekadar mimpi. Awal 2017 menjadi waktu pembuktian ponsel dalam negeri mulai beraksi.

Koperasi Digital Indonesia Mandiri (KDIM) beberapa waktu lalu merilis Digicoop, ponsel pintar asli buatan dalam negeri. KDIM merupakan koperasi yang dirintis oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) bersama dengan dukungan Kementerian Komunikasi dan Infromatika (Kemkominfo) Republik Indonesia. APJII dan Kemkominfo juga didukung Mastel dalam membuat Digicoop.

“Proyek ini sudah mulai dibuat tahun lalu,” kata Menteri Kemkominfo RI Rudiantara, dalam wawancara khusus republika melalui saluran telepon beberapa waktu lalu. Dalam proses produksi, Digicoop menggunakan pabrik di kawasan Cikarang, Bekasi, Jawa Barat.

Digicoop sendiri merupakan nama yang diambil dari singkatan Digital dan Cooperative. Berdasarkan makna dari dua kata tersebut, Digicoop merupakan produk yang sengaja dibuat untuk memajukan koperasi digital. Ponsel Digicoop tidak untuk dijual bebeas. Syarat memperoleh ponsel pintar tersebut, calon pengguna harus terdaftar menjadi anggota KDIM. Kemudian peserta wajib membayar iuran sebesar Rp 100 ribu per bulan.

Setelah membayar selama 13 bulan, anggota bisa mendapatkan ponsel tersebut. Tujuan menggunakan koperasi dalam pendistribusian Digicoop bukan tanpa alasan. Digicoop merupakan proyek serius dalam mengembangkan ekonomi berbasis koperasi. Seandainya respons masyarakat tinggi terhadap ponsel, Digicoop tetap tidak akan dijual secara bebas. Seluruh masyarakat Indonesia bisa menjadi anggota koperasi dengan syarat memiliki kartu identitas.

Dibalik tujuan memajukan ekonomi koperasi, Digicoop juga melambangkan penggunaan internet sehat dan aman. Program tersebut secara khusus diciptakan agar pengguna Digicoop terlindungi dari situs atau aplikasi berkonten pornografi. Salah satu target pemilik ponsel ini menyasar anak-anak sebagai entry level pengguna smartphone. Misalnya, ibu atau ayah mereka tergabung sebagai anggota dan mendapatkan Digicoop.

Kemudian ponsel tersebut bisa diberikan pada anak-anaknya. Fitur penapisan atau internet sehat dan aman tersebut akan menjaga anak-anak dari laman berkonten pornografi. Ponsel secara otomatis tidak memperbolehkan penggunanya menuju, membuka, atau mengakses laman dan aplikasi tersebut. Digicoop juga menjadi pintu gerbang bagi Indonesia dalam mengembangkan teknologi dalam negeri. Indonesia ingin memiliki satelit rakyat sejenis high throughput yang memberikan kecepatan komunikasi lebih tinggi. “Itu cita-cita besarnya,” jelas Rudiantara.

Membahas mengenai spesifikasi, Digicoop tak bisa dibandingkan dengan produk milik pengembang teknologi dunia. Digicoop merupakan ponsel pintar kelas entry level dengan prosesor Quad Core dan RAM 1 GB, serta berteknologi 4G LTE. Meski berada dalam kelas pemula hendaknya tidak membuat spesifikasi sebagai persoalan utama.

“Kita punya konsep kedaulatan digital, jangan sampai ekosistem digital hanya dikuasi produk asing,” kata Henry Kasyfi Soemartono selaku Sekretaris Jenderal APJII dan Ketua KDIM. Terkait Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN), Digicoop menggunakan jalur sertifikasi hardware meski belum secara keseluruhan karena beberapa hardware masih impor dari luar negeri. Sertifikasi tersebut didapatkan sekitar Desember lalu. Namun sesuai peraturan, sertifikasi tidak perlu diganti dengan keterangan tahun ini karena tidak ada perubahan model.

Kemudian apabila digabungkan, lebih dari 50 persen kombinasi perangkat keras dan lunak berasal dari dalam negeri. Namun software buatan lokal mendominasi di dalam ponsel. Beberapa software di antaranya, penyimpanan cloud, email, serta aplikasi obrolan juga karya anak bangsa. Pengembangan software masih tetap dilakukan. Ketika ponsel sudah di tangan pengguna, aplikasi lokal akan mendominasi dalam pengoperasian.

Indonesia menjadi sasaran empuk asing dalam penjualan ponsel pintar. Saat ini tercatat sekitar 70 juta ponsel pintar impor dari negara luar. Kenyataan tersebut tidak bisa dihindari sehingga ekosistem digital di Indonesia justru dikuasai asing. Digicoop mungkin sulit melakukannya dengan cepat. Namun paling tidak bisa mulai membangun ekosistem digital dengan produk lokal. Itu sebabnya pembuatannya memikirkan tiga hal, yakni perangkat, jaringan, dan aplikasi.

Antusiasme masyarakat cukup baik. Saat ini tercatat sudah sekitar 2 ribu anggota terdaftar dalam KDIM. “Target kami bisa mencapai 20 juta anggota dalam waktu lima tahun,” jelas Henry. Rencananya ada sekitar 5 ribu unit ponsel yang akan diproduksi dalam tahap pertama. Pendistribustrian akan dilakukan pada pertengahan Februari mendatang. KDIM juga berencana membuat versi premium Digicoop dengan spesifikasi ponsel lebih tinggi pada Maret nanti.

Seluruh masyarakat Indonesia yang memiliki kartu identitas penduduk (KTP) bisa melakukan pendaftaran secara online melalui koperasidigital.id. Semua proses registrasi dan administrasi berbasis online. Cukup daftar, dan nantikan ponsel datang ke rumah setelah administrasi keanggotaan terpenuhi. APJII dan KDIM, serta pihak terkait juga melakukan pemasaran dengan gencar. Beberapa jalur dilakukan, salah satunya melalui media sosial. Bahkan pendaftaran juga bisa dilakukan berkelompok oleh institusi swasta atau pemerintahan.

(red/endarmono/l/idarto/HAS)

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!