Lifestyle

Makanan yang Diproses Terbukti Memicu Makan Berlebih

Makanan yang Diproses Terbukti Memicu Makan Berlebih . Penelitian telah lama meneliti kaitan antara makanan yang diproses dengan epidemi obesitas.

News – Jika hampir setiap hari Anda mengonsumsi makanan yang diproses, seperti mi instan, sosis, atau pun makanan kaleng, kemungkinan besar asupan makan Anda lebih banyak dibanding jika mengonsumsi makanan yang tidak diproses.

Penelitian telah lama meneliti kaitan antara makanan yang diproses dengan epidemi obesitas.

Dalam penelitian terbaru yang dimuat dalam jurnal Cell Metabolism, para ahli menemukan kaitan tersebut.

Penelitian itu membandingkan dua jenis pola makan, yaitu makanan yang diposes dan tidak diproses selama satu bulan. 

Walau kandungan nutrisinya sama, misalnya jumlah lemak atau karbohidratnya, tetapi orang yang diberi asupan makanan yang diproses makan lebih banyak.

Menurut ketua penleiti, Kevin Hall, PhD, responden yang mengonsumsi makanan yang diproses mengasup 500 kalori lebih banyak dalam sehari.

“Makanan yang diproses cenderung mengandung kalori yang padat dengan kandungan air sedikit, sehingga orang yang memakannya merasa kurang puas,” katanya.

Untuk mencapai tingkat kepuasan yang sama atau pun rasa kenyang, akhirnya seseorang akan menambah volume kalorinya.

Alasan lainnya adalah kecepatan makan. 

“Orang yang mengasup makanan yang diproses makan lebih cepat dan ini berkontribusi pada makan berlebihan,” kata Hall.

Makanan yang diproses memang mudah dan cepat disajikan, cocok untuk orang yang butuh kepraktisan. Tetapi, harus diwaspadai kandungan gula, garam, dan lemaknya, yang tinggi.

Hall mengatakan, tidak semua makanan yang diproses buruk. Apalagi beberapa jenis makanan tersebut sudah diperkaya dengan zat gizi lain, seperti serat, kalsium, atau vitamin D.

Meski begitu, kita perlu membatasinya. MIsalnya dengan membiasakan masak sendiri di rumah dengan menu-menu yang mengandung nutrisi tinggi.

INFOGRAFIK: Jaga Kesehatan, Hitung Kalori Saat Hadapi Hidangan Lebaran

Tags

Related Articles

Back to top button
Close
Close