Health

Ayo, Jaga si Kecil dari Penyakit Diabetes

Ayo, Jaga si Kecil dari Penyakit Diabetes. Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Umum Bhakti Asih, Bhanu, mengatakan bahwa statistik penderita diabetes di Indonesia sendiri saat ini sudah menunjukkan usia yang beragam mulai dari anak-anak hingga orang tua.

News, JAKARTA  – Menjaga anak dan keluarga tetap sehat tentu merupakan keinginan semua orang tua di dunia, termasuk terhadap penyakit gula atau obesitas yang belakangan kian marak terjadi tidak hanya pada orang-orang lanjut usia tetapi juga anak-anak.

Data International Diabetes Federation pada 2017 menemukan bahwa sepertiga dari penderita prediabetes di dunia saat ini berusia 20 tahun-39 tahun. Padahal, beberapa dekade sebelumnya angka usia penderita penyakit gula ini berada di kisaran 50 tahun ke atas.

Dari data yang sama, disebutkan bahkan Indonesia merupakan salah satu negara dengan penderita diabetes tertinggi ke-6 dengan sekitar 10,3 juta orang  yang mengalami penyakit kegulaan.

Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Umum Bhakti Asih, Bhanu, mengatakan bahwa statistik penderita diabetes di Indonesia sendiri saat ini sudah menunjukkan usia yang beragam mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Dia menyebutkan faktor dari diabetes memang sangat beragam, tetapi ada dua kunci utama. Pertama, faktor genetik yang meningkatkan risiko diabetes. Kedua, faktor lingkungan yang memicu faktor dari gen tersebut atau bahkan menghasilkan kemungkinan orang terkena obesitas.

Dari dua faktor utamanya itu, Dokter Bhanu menekankan pada faktor lingkungan yang perlu dikelola sebaik mungkin sebab perilaku makan yang ada saat ini bisa dibilang sangat mengkhawatirkan bagi kesehatan anak, khususnya terhadap penyakit diabetes. Alasannya, anak cenderung suka makanan manis dan berwarna-warni yang menyimpan kandungan gula sangat tinggi.

Menurut Bhanu, hal yang perlu dipikirkan lebih keras justru bagi anak pada usia remaja yang memiliki kebiasaan “nongkrong cantik” dengan suguhan makanan dan minuman yang hampir bisa dipastikan mengandung gula berlebih.

Padahal konsumsi gula yang disarankan setiap harinya adalah hanya 50 gram perhari atau mudahnya sebanyak 4 sendok gula makan. Sementara, rerata minuman semacam kopi yang sering dikonsumsi dan banyak dijual menggunakan sekitar 2 sendok makan gula. Jadi kemungkinan faktor lingkungan berdampak terhadap diabetes anak saat ini sangat tinggi.

“Kita kan sekarang sering nongkrong yah. Pesennya kopi-kopian terus snack-nya kue dengan cream manis. Kalau setiap hari kayak gitu, gimana mau sehatnya? Atau terhindar dari diabetes ini? Memang ini tantangan yang dihadapi sekarang, tapi bukan berarti tidak ada cara pencegahannya,” katanya.

Oleh sebab itu, Bhanu menyarankan para orang tua untuk memulai pola hidup sehat. Misalnya dengan menggunakan gula rendah kalori saat berada di rumah atau memilih makanan dengan lebih teliti ketika sedang makan bersama di luar.

Bhanu juga menekankan perlunya edukasi diabetes kepada anak. Untuk itu, orang tuanya terlebih dahulu yang perlu memahami tentang hal ini. Baru setelahnya, orang tua bisa menyampaikan kepada anak untuk tidak mengonsumsi makanan dan minuman yang memiliki kadar gula berlebih.

Terakhir saran dari Bhanu adalah berolahraga. Pasalnya, untuk tetap sehat tidak cukup hanya dengan pola makan yang benar tapi juga membutuhkan olahraga sebagai dessert dari pola hidup yang diterapkan.

“Mau tidak mau olahraga itu tetap perlu. Tapi ingat olahraga itu kegiatan yang rutin dilakukan. Banyak sekarang yang salah kaprah bahwa kalau sudah berjalan jauh itu berarti sudah olahraga, padahal engga begitu. Harus ada jadwal dan dilakukan terus-menerus, meskipun waktunya singkat tapi tetap rutin,” ujarnya.

Tags

Related Articles

Back to top button
Close
Close