Ekonomi

Tren Belanja Libur Lebaran Tahun Ini Bergeser ke Leisure

Tren Belanja Libur Lebaran Tahun Ini Bergeser ke Leisure. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai bahwa pada libur lebaran tahun ini terjadi perubahan tren belanja masyarakat dari pemenuhan kebutuhan sandang ke kebutuhan leisure.

News, JAKARTA – Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai bahwa pada libur lebaran tahun ini terjadi perubahan tren belanja masyarakat dari pemenuhan kebutuhan sandang ke kebutuhan leisure.

“Perubahannya ada. Belanja pakaian jadi mulai berkurang bergeser ke belanja leisure, seperti rekreasi, perhotelan, makanan minuman, oleh-oleh dan restoran,” ujarnya kepada Bisnis, Minggu (9/5/2019).

Menurutnya pergeseran tersebut terjadi karena harga baju atau pakaian, saat ini dinilai semakin terjangkau, sehingga tradisi membeli baju baru saat lebaran mulai ditinggalkan. 

“Sekarang beli bajunya bisa kapan saja,” ujarnya.

Apalagi, lanjut Bhima, saat ini juga ditambah dengan semakin masifnya belanja online dikalangan masyarakat, seiring penetrasi dan akses internet yang makin merata di wilayah Indonesia.

“Tren belanja online perlahan menggeser omset di toko konvensional. Banjir diskon dan potongan ongkir di toko online saat lebaran juga efektif menaikkan pembeli,” ujarnya.

Menurutnya pola konsumsi lebaran tahun ini makin di drive gen milenial yang menginginkan lebih banyak belanja leisure dan online.

Kendati demikian,, lanjut dia, saat ini masyarakat juga sudah mulai banyak memilih menyisihkan sebagian dananya untuk disimpan, dari pada jor-joran untuk belanja.

“Saat ini juga mulai banyak yang disimpan uangnya buat investasi dan persiapan untuk bayar uang sekolah anak,” ujarnya.

Sebelumnya, Bhima mengatakan bahwa dana Tunjangan Hari Raya (THR) diperkirakan dapat mendorong konsumsi secara seasonal atau musiman, karena bertepatan dengan puncak permintaan masyarakat.

“Peningkatan THR PNS bisa dorong belanja, khususnya di daerah sepanjang arus mudik lebaran. Konsumsi rumah tangga diprediksi tumbuh 5-5,1% yoy,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (24/5/2019).

Namun demikian, meski tumbuh positif, konsumsi tidak mengalami perubahan yang signifikan jika dibanding q2 tahun 2018 yakni 5,16% yoy.

Menurutnya, faktor pertumbuhan konsumsi tidak signifikan meski ada THR, lantaran sebagian masyarakat kelas menengah dan atas tidak langsung membelanjakan uang THR-nya.

“Waktu lebaran yang mendekati tahun masuk ajaran baru sekolah juga membuat sebagian masyarakat melakukan saving,” ujarnya.

Kemudian, lanjut dia, kondisi politik paska pilpres juga bakal ada pengaruhnya, meskipun tidak dominan dalam kepercayaan konsumen berbelanja saat lebaran. 

“Kejadian rusuh tanggal 22 Mei 2019 membuat pusat perbelanjaan terganggu dan arus distribusi logistik di Jabodetabek terpengaruh,” ujarnya.

Sementara, sisi inflasi cenderung stabil tapi perlu dicek inflasi bahan makanan masih jadi ancaman jelang lebaran. “Jadi harus ada antisipasi inflasi juga mendekati lebaran sehingga daya beli tetap terjaga,” ujarnya.

Diketahui sebelumnya bahwa pencairan secara serentak dana THR pada Mei dan gaji ke-13 untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) pada Juni, diharapkan dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua tahun ini.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa selain agar dapat dimanfaatkan PNS, TNI, Polri dan pensiunan untuk merayakan hari raya Idulfiti, pencairan THR juga diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian Tanah Air terutama dari sisi konsumsi, baik dari first round effect maupun second round effect.

“Kita berharap dengan adanya THR ini dan nanti bulan depan juga ada gaji ke -13, itu akan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi jauh lebih tinggi,” ujarnya, Jumat (24/5/2019).

Tags

Related Articles

Back to top button
Close
Close