Sepekan Setelah Musikus Jazz Riza Arshad Berpulang

redaksi.co.id – Sepekan Setelah Musikus Jazz Riza Arshad Berpulang

Musikus jazz Riza Arshad (53 tahun) mengembuskan napas terakhir di Bandung, pekan lalu. Setelah tujuh hari mari kita mengenang musikus jazz yang penuh dedikasi untuk kemajuan musik jazz di Indonesia ini. Berikut sekilas profil Riza Arshad seperti ditulis Koran Tempo Akhir Pekan, Sabtu, 14 Januari 2017.

Bersama dengan Indro, Tohpati, dan Arie Ayunir, Riza mendirikan Simak Dialog pada 1993. Hingga kini, hanya Riza yang masih setia mengusung bendera Simak Dialog. Sejak ditinggal personel-personel awalnya, Riza mengembangkan musik jazz yang dipadukan dengan instrumen kendang Sunda bersama Rudy Zulkarnaen ( upright acc / electric bass ), Cucu Kurnia (kendang Sunda/ metal percussion ), dan Mian Tiara (vokal). Mereka berfokus menggarap musik jazz berpadu ritme kendang yang dipromosikan sebagai west meet southeast .

Di mata Indro, lelaki kelahiran Jakarta, 2 November 1963, itu adalah musikus yang gigih dan keras hati demi musik yang dia anut. Musik Riza membuat pintar, saya belajar banyak sekali, kata Indro. Soal Riza Arshad, komposer Dwiki Dharmawan memberikan catatan. Dwiki terakhir berkolaborasi dengan Riza saat manggung di Pyongyang, Korea Utara, pada 2015. Dia musikus jazz yang mampu membukukan pencapaian global dan mau membuka jalan bagi musikus lain untuk tampil di panggung global juga, kata Dwiki, yang sudah mengenal Riza selama 34 tahun.

Bersama Simak Dialog, Riza telah merilis tujuh album, yaitu Lukisan (1995), Baur (1999), Trance/Mission (2002), Patahan (2005), Demi Masa (2008), The 6th Story (2013), dan Live at Orion (2014). Grup ini berhasil memboyong AMI Award untuk kategori album jazz terbaik pada 2014. Simak Dialog banyak melakukan tur di mancanegara seperti Amerika Serikat dan Jepang. Menjelang meninggal, Riza masih menggarap album solonya yang direkam di Amerika Serikat serta proyek bersama Simak Dialog. *

MOYANG KASIH DEWIMERDEKA

(red/ahyu/etyo/armawan/WSD)