Jefri Kurniawan, Si Bunglon Berkepala Batu

oleh

redaksi.co.id – Jefri Kurniawan, Si Bunglon Berkepala Batu

Hidup bagaikan roda yang berputar. Setiap manusia pasti pernah merasakan betapa pahit-manis berada di bawah (kegagalan) serta di atas (kesuksesan).

Kadang, kegagalan justru menjadi momentum pencerahan yang kemudian dapat mengubah pola pikir dan kepribadian seseorang menuju kebaikan sampai berujung pada kesuksesan. Hal semacam ini dialami oleh Jefri Kurniawan.

Pemain anyar Persija Jakarta yang memperkuat Pusamania Borneo FC selama Torabika Soccer Championship (TSC) 2016 itu rupanya menapaki jalan lumayan terjal sebelum mencapai level elite sepak bola nasional seperti sekarang.

Saya sudah menekuni sepak bola sejak usia dini. Karier junior saya jalani bersama SSB Lawang, Akademi Arema, Persekam Metro, dan Persema Malang, kata Jefri saat ditemui BOLA di Mes Persija, Selasa (24/1/2017).

“Klub yang disebut terakhir menjadi titik nadir sekaligus titik balik kehidupan saya di lapangan hijau,” ucapnya.

Di Persema, Jefri berlatih keras agar bisa menembus tim senior, yang waktu itu berlaga di Divisi Utama.

Suatu ketika namanya tercantum dalam susunan pemain utama Laskar Singosari, tapi tiba-tiba dicoret lagi sehari sebelum bertanding.

Pencoretan itu tanpa disertai alasan yang jelas. Saya frustrasi dan kehilangan motivasi hingga memutuskan berhenti dari dunia sepak bola profesional sekitar 2009-2010 selama enam bulan. Sepatu-sepatu saya bagikan kepada teman di kampung, ujar Jefri.

Namun, keputusan itu bersifat sementara lantaran terbawa emosi sesaat. Jefri kembali menekuni jalan hidupnya setelah berdiskusi dan mendengarkan masukan-masukan dari kekasihnya, Nur Yani Frida.

Dia menyemangati saya untuk kembali menekuni sepak bola. Di situlah saya menemukan jati diri,” kata Jefri.

“Saya ingin menuntaskan apa yang telah saya mulai dan meraih hasil maksimal. Kemampuan olah bola barangkali tak terlalu bagus, tapi saya memiliki kemauan keras, ucapnya.

Kebetulan, Jefri mendapatkan tawaran menarik dari seorang teman berupa kesempatan bergabung ke klub peserta Divisi Satu, Persikoba, tanpa harus melalui seleksi. Dia ibarat mengalami kelahiran kedua di kancah sepak bola nasional.

Utang Budi

Usai turun gunung dari pensiun dini, peruntungan Jefri berubah secara perlahan. Dia naik kasta selangkah demi selangkah sampai berlabuh di kasta tertinggi bareng Persegres Gresik United selepas menimba ilmu di Persinga Ngawi selama beberapa bulan.

Relatif singkat di Persinga, tapi meninggalkan kesan tersendiri. Tim ini menganut sistem kekeluargaan dan pelatihnya, M Hasan, berperan penting dalam membentuk saya menjadi pemain yang lebih baik lagi, tutur Jefri.

M Hasan bukan satu-satunya pelaku sepak bola yang membuat Jefri merasa berhutang budi. Dia juga mengaku banyak belajar dari Joko Susilo dan (alm.) Setyo Budiarto semasa masih berada di Akademi Arema.

Satu lagi sosok yang sudah saya anggap sebagai kakak kandung sendiri adalah M Andi Ardiansyah. Dia eks pemain tim nasional U-23 bareng Ahmad Bustomi. Berbagai masukan teknis maupun nonteknis saya dapatkan darinya, kata Jefri.

Di atas lapangan, Jefri termasuk kategori pemain bunglon. Sifat kepala batu, dalam konteks yang positif, menjadikan ia selalu siap setiap kali diminta melakoni dan beradaptasi dengan “habitat baru”, entah itu bek, gelandang, maupun penyerang.

Favorit saya adalah main di sektor sayap atau sebagai penyerang lubang. Asalkan bukan kiper. Lagi-lagi modal utama yang selalu saya pupuk adalah kemauan keras untuk maju, ujarnya.

Sifat pekerja keras inilah yang disukai oleh pelatih baru Persija, Stefano “Teco” Cugurra.

Saya sudah memantau permainannya di TSC via streaming. Saya melihat Jefri pemain bagus dan tampak serius saat latihan, kata Teco kepada BOLA.

Bersama Persija, Jefri tak ingin mematok target muluk. Dia sudah cukup bahagia karena bisa memperkuat salah satu klub idolanya, bahkan dikabarkan sampai mengabaikan tawaran bermain di luar negeri, yakni MISCMIFA (Liga Primer Malaysia).

Target pribadi yaitu melebihi pencapaian musim lalu. Ada tawaran juga dari MIFA, tapi tak ada tindak lanjut. Jadi, saya memilih Persija karena telah menjalin komunikasi sejak lama, ucap pemain yang punya tanggal lahir (18 Maret) serupa dengan legenda Persija, Iswadi Idris, ini.

(red/andhi/urhartanto/SN)

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!